BAB I

PENDAHULUAN

 

1.1 LATAR BELAKANG

            Dalam rangka mendekatkan kesesuaian mutu lulusan yang meliputi kemampuan kerja dan sikap profesional serta jumlah tamatan dengan lapangan kerja. Departemen Pendidikan Nasional menempuh kebijakan untuk menyelenggarakan Pendidikan Sistem Ganda (PSG) di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Dan salah satu wujud penerapan PSG di SMK adalah dengan melaksanakan Praktek Kerja Industri (PRAKERIN) bagi siswa.

Program tersebut dimaksudkan untuk meningkatkan kualitas kerja sama antara SMK dan instansi pasangannya dalam perencanaan dan penyelenggaraan pendidikan, pelaksanaan pengujian  dan sertifikasi serta pemasaran lulusannya. Dengan penyelenggaraan Pendidikan Sistem Ganda (PSG) dan Praktek Kerja Industri (PRAKERIN), diharapkan SMK akan mampu menghasilkan lulusan yang ditinjau dari segi mutu maupun jumlah yang sesuai dengan kebutuhan lapangan kerja.

Dengan menyelenggarakan kegiatan Praktek Kerja Industri (PRAKERIN) di Jurusan Teknologi Hasil Pertanian Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Brawijaya Malang dapat menjadikan penyusun sebagai lulusan yang bermutu dan memperoleh pengetahuan lebih luas.

1.2 TUJUAN

            Tujuan yang ingin dicapai dalam Program Pendidikan Sistem Ganda (PSG) dan Praktek Kerja Industri (PRAKERIN) bagi siswa SMK pada Kompetensi Keahlian Teknologi Pengolahan Hasil Pertanian adalah :

  1. Dapat menambah wawasan, pengetahuan, keterampilan siswa yang lebih luas dan yang lebih berbeda daripada yang diperoleh sebelumnya dari sekolah.
  2. Dapat melatih siswa dalam kemandirian dan pengalaman praktek kerja agar siswa siap dalam bekerja.

1.3 MANFAAT

Manfaat yang penyusun peroleh dalam pelaksanaan program Pendidikan Sistem Ganda (PSG) dan Praktek Kerja Industri (PRAKERIN) bagi siswa SMK pada Kompetensi Keahlian Teknologi Pengolahan Hasil Pertanian adalah :

  1. Menambah wawasan serta pengetahuan yang lebih luas dari pengalaman Praktek Kerja Industri di Laboratorium Mikrobiologi Pangan, Laboratorium Kimia Pangan, dan THP Snack & Bakery.
  2. Menambah keterampilan siswa dalam melakukan kegiatan pengolahan pangan yang dapat dianalisis kandungan kimia serta dapat mengetahui jenis mikroba yang menguntungkan atau merugikan dalam bahan pangan tersebut.
  3. Mengetahui secara langsung keseluruhan praktek dalam proses pengolahan pangan di Jurusan Teknologi Hasil Pertanian Universitas Brawijaya.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

 

2.1 LABORATORIUM MIKROBIOLOGI PANGAN

2.1.1 MEDIA PERTUMBUHAN BAKTERI

Medium Atau Substrat

Dasar makanan yang paling baik bagi bakteri ialah medium yang mengandung zat-zat organik seperti rebusan daging, sayur-sayuran, sisa-sisa makanan, atau ramuan-ramuan yang dibuat oleh manusia. Bentuk, susunan dan sifat media ditentukan oleh ada tidaknya penambahan zat pemadat seperti agar, gelatin dan sebagainya.

Bentuk media :

1)       Media cair (kaldu cair) : tidak ditambahkan zat pemadat, dipergunakan untuk bakteri dan ragi.

2)       Media padat : menggunakan agar, merupakan media umum yang dipergunakan untuk pertumbuhan bakteri heterotrof, ragi dan jamur.

3)       Media semi padat atau semi cair : penambahan zat padat 50%, dipergunakan untuk pertumbuhan mikroba yang banyak memerlukan air, anaerobik atau fakultatif.

Susunan media :

Mengandung air, protein, asam amino, energi dan vitamin. Dapat berbentuk :

1)       Media alami, disusun oleh bahan alami, kentang, daging, susu, telur dan lain-lain.

2)       Media sintetik, disusun dari senyawa kimia.

3)       Media semi sintetis, media yang disusun berdasarkan campuran bahan alami dan bahan sintetis. Kaldu nutrisi untuk pertumbuhan bakteri terdiri dari pepton, ekstrak daging, NaCl dan aquades. Agar toge untuk pertumbuhan jamur/ ragi dan agar wortel untuk pertumbuhan ragi dan beberapa jenis jamur.

Sifat Media :

Tujuan lain penggunaan media yaitu untuk isolasi, seleksi, evaluasi dan diferensiasi biakan yang didapat, artinya penggunaan zat tertentu yang mempunyai pengaruh terhadap pertumbuhan dan perkembangbiakan. Setiap media mempunyai sifat (spesifikasi) tersendiri sesuai dengan maksudnya.

Pembagian media berdasarkan sifat :

1)       Media umum, contoh nutrien agar, dan agar kentang dekstrosa.

2)       Media pengaya

-          Media selektif.

-          Media differensial.

-          Media penguji.

-          Media perhitungan.

Media yang banyak digunakan dalam pekerjaan rutin di laboratorium ialah kaldu cair dan kaldu agar. Medium ini tersusun dari :

-          Kaldu bubuk 3 g.

-          Pepton 5 g.

-          Air suling 1000 g.

Jika diperlukan medium padat, maka ditambahkan 15 g agar. Media ini disebut media baku. Jika tidak ada kaldu bubuk, bahan dapat diganti dengan rebusan daging yang diperoleh sebagai berikut:

-          Ambil barang 0,5 kg daging yang tidak berlemak.

-          Rendam dalam 1.000 ml air suling semalam dalam almari es.

-          Paginya buang lemak yang mengapung di permukaan air. Kemudian saring suspensi dengan kain kasa yang halus.

-          Tambahkan air suling pada filtrat sehingga volume menjadi 1 liter lagi.

-          medium ini ditambahkan 5 g pepton dan lain-lainnya yang diperlukan.

-          Lalu panasi suspensi sampai 100oC selama 20 menit.

-          Dan tuangkan suspensi dengan kertas saring, dan tambahkan air suling lagi sehingga volume tetap 1 liter. Medium ini perlu disterilkan dahulu sebelum digunakan untuk memiara bakteri.  Juga keasaman medium perlu diatur, biasanya pH 7.

1. Media Cair

Media cair yang biasa dipakai ialah kaldu yang disiapkan sebagai berikut :

-          1 liter air murni ditambahkan 3 g kaldu daging lembu dan 5 g pepton. Pepton ialah protein yang terdapat pada daging, air susu, kedelai, dan putih telur. Pepton mengandung banyak N2, sedangkan kaldu berisi garam-garam mineral dan lain-lain

-          Medium itu kemudian ditentukan pH nya 6,8 sampai 7, jadi sedikit asam atau netral. Keadaan yang demikian ini sesuai bagi kebanyakan bakteri.

-          Kaldu seperti tersebut di atas masih perlu disaring untuk kemudian dimasukkan ke dalam tabung-tabung reaksi atau botol-botol. Penyaringan dapat dilakukan dengan kertas saring setelah tabung atau botol berisi medium.

-          Kaldu tersebut disumbat dengan kapas, dan dimasukkan ke dalam alat pensteril (autoklaf).

2. Media Kental (Padat)

Media padat ialah media dari kaldu yang dicampur dengan sedikit agar. Setelah media disterilisasikan, dan kemudian dibiarkan mendingin, maka  diperoleh medium padat. Agar ialah sekedar zat pengental, dan bukan zat makanan bagi bakteri.

3. Media Yang Diperkaya

Kebanyakan bakteri tumbuh pada dasar makanan seperti diatas. Tetapi bakteri patogen seperti Brucella abortus, Mycobacterium tuberculosis, Diplococcus pneumoniae, dan Neisseria gonorrhoeae memerlukan zat makanan tambahan berupa serum atau darah yang tidak mengandung fibrinogen lagi. Fibrinogen adalah zat yang menyebabkan darah menjadi kental apabila keluar  pada saat terluka. Serum atau darah dicampurkan ke dalam medium yang sudah disterilkan. Jika pencampuran dilakukan sebelum sterilisasi, maka serum atau darah tersebut akan mengental akibat pemanasan. Pada medium buatan Loeffler, serum dicampurkan di dalam dasar makanan sebelum sterilisasi. Medium ini baik sekali untuk memiara basil-basil dipteri. Juga medium yang memerlukan tambahan putih telur dibuat dengan cara demikian. Seringkali orang menambahkan susu atau air tomat kepada dasar makanan untuk menumbuhkan lactobacillus dan beberapa spesies lainnya.

4. Media Yang Kering

Sekarang banyak dipermudah dengan tersedianya bermacam-macam medium dalam bentuk serbuk kering. Untuk menyiapkan medium tersebut, cukup serbuk kering tersebut untuk dilarutkan dalam sekian liter air dan kemudian larutan itu disterilkan. Penentuan pH tidak perlu lagi, karena sudah dilakukan lebih dahulu pada pembuatan serbuk. Salah satu contoh adalah merk DIFCO.

5. Media Yang Sintetik

Medium sintetik berupa ramuan-ramuan zat anorganik tertentu yang mengandung zat karbon dan nitrogen. Bakteri autotrof dapat hidup dalam medium ini. Bakteri saprofit (istilah lain untuk ini ialah saprobakteri) dapat juga dipiara di dalam medium ini asalkan pada medium ini ditambahkan natrium sitrat dan natrium amonium fosfat yang merupakan sumber karbon dan sumber nitrogen. Medium ini buatan Koser dan medium ini berguna untuk membedakan Aerobacter aerogenes dari Escherichia coli  yang pertama dapat hidup dan tidak dalam medium ini. Medium yang cocok untuk spesies tertentu dan tidak cocok untuk spesies yang lain, disebut medium selektif.

2.1.2 BAKTERI

a) Bentuk bakteri.

-          Morfologi bakteri : Besarnya  mikron μ.

-          Bentuk : bulat, batang, spiral.

-          Struktur : dinding sel, kapsul.

-          Susunan : soliter, bergerombol.

b) Bentuk dan susunan.

Secara individual terdiri dari tiga bentuk :

-          Ellipsoidal/spherical/bulat

-          Cylindrical/rod like/batang

-          Helicoidal/spiral

-          Bentuk ellipsoidal disebut Cocci

  • Diplococci = berpasang-pasangan 00
  • Streptococci = bentuk cicin rantai 000000000000000
  • Tetrade = 4 sel bersusun segi 4 ::
  • Staphylococci = bergerombol seperti buah anggur ::::::::::

-          Sarcina = seperti kubus

Gambar 2. Bentuk-bentuk Bakteri

-          Bakteri memperbanyak diri dengan membelah diri “binary fission”

  • Diplococci = membelah diri secara transversal
  • Tetrade = membelah diri dalam dua bidang saling tegak lurus
  • Staphylococci = membelah diri dalam tiga bidang tidak teratur
  • Sarcina = membelah diri dalam tiga bidang saling tegak lurus.

-          Bentuk Cylindrical disebut Bacilli

  • Diplobacilli : –
  • Streptobacilli : —————–
  • Coccobacilli : =
  • Spesifikasi : bentuk gada dll

-          Bentuk spiral ada tiga bentuk

  • Spiral : golongan bakteri yang bentuknya seperti spiral, contoh : Spirillum
  • Vibrio : berbentuk koma (bentuk spiral tidak sempurna) Contoh : Vibrio cholera
  • Spirochaeta : berbentuk spiral yang dapat bergerak.

-          Ukuran dan Berat Bakteri

Ukuran bakteri menggunakan mikron.

  • Bakteri paling kecil : Dialister pneumoni 0,15 –0,3 mikron
  • Bakteri paling besar : Spirillum volutans 1,5 X 13 – 15 mikron
  • Cocci : rata-rata mempunyai diameter 0,5 – 1 mikron
  • Bacilli : rata-rata mempunyai diameter 0,5 X 1,5 mikron
  • Bakteri terdiri dari 70-80% air dengan berat jenis : 1.04 – 1.10
  • Berat bakteri : 2 X 10 pangkat –12 gram

c) Struktur Bakteria.

  Struktur bakteri terdiri dari

-          Dinding sel

-          Granula

-          Membran sitoplasma

-          Nucleus

-          Capsul

-          Flagella

Flagella

Flagella berfungsi sebagai alat gerak merupakan rambut cambuk yang sangat halus, keluar dari sitoplasma dan panjangnya beberapa kali tubuhnya. Tidak semua bakteri mempunyai flagella. Bakteri bentuk Cocci tidak memiliki flagella kecuali Sarcina afilis.

Bacilli : sebagian memiliki flagella dan sebagian tidak memiliki flagella

Spirilla : memiliki flagella.

Flagella dapat dilihat dengan pewarnaan Leifson’s method. Flagella terdiri dari protein yang analog dengan myosin.

Ada lima golongan bakteri berdasarkan flagela :

1)       Atrichous : tidak memiliki flagella, contoh : Clostridium tetani.

2)       Monotrichous : memiliki satu flagella , contoh : Pseudomonas aeroginosa.

3)       Lopotrichous : memiliki flagela lebih dari satu pada salah satu atau kedua sisinya, contoh : Pseudomonas fluorescen Proteus mirabilis.

4)       Amphitrichous : memiliki flagela pada kedua sisinya, contoh: Chromobacterium Violaceum.

5)       Peritrichous : memiliki flagella diseluruh tubuh, contoh : Borrellia novyi Proteus Vulgaris,  Salmonella typhosa dan Escherichia coli.

Capsul

Sebagian dari bakteri memiliki capsul yang merupakan lendir tipis atau terkadang tebal. Capsul pada bakteri merupakan envelop, capsul dapat dilihat dengan pewarnaan Hiss, Johne. Pada bakteri, capsul berfungsi sebagai pelindung dan sebagai cadangan bahan makanan dan capsul ada hubungannya dengan virulensi. Capsul terdiri dari polysaccharida (glucosa, fructosa, galactosa, asam amino). Contoh bakteri yang memiliki capsul yaitu : Bacillus anthraxis, Klebsiella pneumoniae, Streptococci diplococcus.

Dinding Sel

Letaknya dibawah capsul, diluar sitoplasma, kaku memberi bentuk (frame) dengan tebal 10-25 mikron dan mengandung 20-50% bahan kering. Mengandung nitrogen organik, lipid, polysaccharida.

Membran Cytoplasma

Bersifat semipermeable, bila membran sitoplasma rusak bakteri akan mati.

Inti

Merupakan partikel dalam sel, mengandung DNA (deoxy ribonucleid acid) merupakan material inti atau chromatin.

Granula

Granula tempat penyimpanan volutin ( mengandung nitrogen, karbohidrat dan lemak), granula mempunyai derajat afinitas tinggi terhadap zat warna. Granula berfungsi sebagai sumber penyimpan makanan. Bakteri Corynebacterium mempunyai granula kecil tetapi intensif terhadap pewarnaan anilin.

Endospora

Ada sebagian dari bakteri yang membentuk endospora, sebagai usaha untuk mempertahankan hidup bila keadaan sekeliling tidak cocok, bila cocok kembali menjadi bakteri kembali.

Ada tiga posisi endospora :

1.)     Central contoh : Bacillus anthraxis, Bacillus subtilis.

2.)     Subterminal contoh : Clostridium chauvoi, Clostridium septicum.

3.)     Terminal contoh : Clostridium tetani.

Bentuk spora : spherical, dan oval

Bakteri bentuk cocci tidak membentuk spora. Endospora terdiri dari 20% air sedangkan bentuk vegetatif 80-90% air.

d) Reproduksi bakteri.

Bakteri berkembangbiak secara aseksual yaitu proses pembelahan diri menjadi dua (binaary fission) dan secara konjugasi. Sel-sel akan memanjang dan apabila sudah mencapai dua kali ukuran normal akan membelah di bagian tengah menjadi dua sel yang selanjutnya akan mengalami pembelahan. Konjugasi merupakan terjadinya penggabungan gen antara dua sel. Sel bakteri mempunyai plasmid yang membawa gen disebut faktor seks, memberikan gen tersebut kepada sel yang tidak mempunyai faktor seks. Faktor seks tersebut diberikan melalui jembatan sitoplasma yang terbentuk diantara dua sel. Jembatan sitoplasma yang menghubungkan dua sel disebut pili seks. Jenis kelamin bakteri tidak dapat ditentukan, hanya saja bakteri yang memberikaan DNA disebut jantan dan sebaliknya bakteri penerima DNA disebut betina.

e) Penanaman bakteri (Inokulasi).

   Kegiatan memindahkan bakteri dari medium yang lama ke medium yang baru meminta banyak ketelitian. Terlebih dahulu diusahakan  semua alat  yang berkaitan dengan medium dan kegiatan inokulasi benar-benar steril untuk menghindari kontaminasi yaitu masuknya mikroorganisme yang tidak diinginkan.

Teknik pemindahan bakteri :

1. Menyiapkan Ruangan

Ruang tempat inokulasi kecil, bersih dan bebas angin. Dinding ruang yang basah menyebabkan butir-butir debu menempel. Pada waktu mengadakan inokulasi, baik sekali jika meja tempat inokulasi didasari dengan kain basah. Kegiatan inokulasi dapat dilakukan didalam suatu kotak berkaca (ent-kas). Dalam laboratorium untuk membuat vaksin, serum dan sebagainya, udara yang masuk ke dalam ruangan itu dilewatkan melalui saringan yang disinari dengan sinar ultraviolet.

2. Pemindahan Dengan Kawat Inokulasi

Ujung kawat inokulasi sebaiknya dari platina atau dari nikrom. Ujung lurus, berupa kolongan berdiameter 1-3 mm. Terlebih dahulu ujung kawat dipijarkan dan tangkainya cukup dilewatkan nyala api saja. Setelah dingin kembali, ujung kawat disentuhkan suatu koloni. Mulut tabung tempat pemiaraan dipanasi setelah sumbatnya diambil. Setelah pengambilan inokulum (yaitu sampel bakteri) selesai, mulut tabung dipanasi lagi kemudian disumbat seperti semula. Ujung kawat yang membawa inokulum tersebut digesekkan pada medium baru atau pada suatu kaca benda, jika tujuannya akan membuat suatu sediaan.

3. Pemindahan Dengan Pipet

Cara ini dilakukan pada penelitian air minum atau susu. Ambil 1 ml sampel untuk diencerkan dengan 99 ml air murni yang steril. Kemudian ambil 1 ml dari pengenceran untuk dicampurkan dengan medium agar yang masih dalam keadaan cair (suhu antara 42– 45o C). Lalu agar  yang masih encer ini dituangkan di cawan petri. Setelah agar membeku, maka cawan petri yang berisi piaraan baru disimpan dalam tempat yang aman, misalnya di dalam almari atau di dalam laci. Penyimpanan cawan dilakukan dengan meletakkannya terbalik, yaitu permukaan medium menghadap ke bawah untuk menghindari tetesnya air yang mungkin melekat pada dinding dalam tutup cawan. Piaraan yang diperoleh dengan jalan seperti di atas terkenal sebagai piaraan adukan. Dengan cara yang demikian bakteri yang diinokulasikan dapat menyebar luas ke seluruh medium. Bakteri aerob maupun yang anaerob dapat tumbuh dan banyaknya koloni dapat dihitung dengan mudah.

4. Cara Menyendirikan Piaraan Murni

Dalam keadaan sebenarnya (di alam bebas) dapat dikatakan tidak ada bakteri yang hidup tersendiri terlepas dari spesies lainnya. Seringkali bakteri patogen kedapatan bersama-sama bakteri saproba. Yang terakhir ini dapat disebut penyerbu yang membonceng (secondary invaders). Mungkin juga bakteri patogen yang membonceng. Untuk menentukan siapa pembonceng dan siapa yang diboncengi diberikan pedoman “siapa yang datang terIebih dulu dan siapa yang datang kemudian”.

Untuk menyendirikan suatu spesies dikenal beberapa cara, yaitu:

a) Dengan Pengenceran

Cara ini pertama kali dilakukan oleh Lister  pada tahun 1865. Ia berhasil memiara murni Streptococcus lactis yang diisolasikannya dari susu yang sudah masam. Suatu sampel dari suatu suspensi yang berupa campuran bermacam-macam spesies diencerkan dalam suatu tabung tersendiri. Dari enceran ini kemudian diambil sampel 1 ml untuk diencerkan lagi. Jika perlu  dari enceran yang kedua ini diambil 1 ml untuk diencerkan lebih lanjut. Jika dari pengenceran yang ketiga ini diambil 0,1 ml untuk disebarkan pada suatu medium padat, kemungkinan besar akan mendapatkan beberapa koloni tumbuh dalam medium tersebut, tetapi mungkin juga hanya memperoleh satu koloni saja. Dalam hal ini diperoleh satu koloni murni dan selanjutnya spesies ini dapat dijadikan piaraan murni. Jika  belum yakin bahwa koloni tunggal yang diperoleh itu murni, dapat mengulang pengenceran dengan menggunakan koloni ini sebagai sampel.

b) Dengan Penuangan

Robert Koch (1843-1905) mempunyai metode yang lain yaitu dengan mengambil sedikit sampel campuran bakteri yang sudah diencerkan dan sampel ini kemudian disebarkan di dalam suatu medium dari kaldu dan gelatin encer. Dengan demikian diperoleh suatu piaraan adukan. Setelah medium itu mengental, maka selang beberapa jam kemudian tampak koloni yang masing-masing dapat dianggap murni. Dengan mengulang kegiatan seperti di atas maka diperoleh piaraan dan akhirnya akan diperoleh piaraan murni yang lebih terjamin.

c) Dengan Penggesekan

Metode ini sekarang banyak digunakan karena tidak memakan banyak waktu dengan cara ini bakteri anaerob tidak dapat tumbuh. Jika ujung kawat inokulasi dibengkokkan kemudian ujung itu disentuhkan suatu koloni dan digesekkan pada permukaan medium padat maka beberapa waktu kemudian (kurang lebih setelah 12 jam) akan tampak koloni yang letaknya tersebar di permukaan medium. Jika diadakan pemindahan sampel dari suatu koloni yang letaknya terpencil maka akan diperoleh suatu piaraan murni.

f) Pemeriksaan bakteri hidup

Pemeriksaan bakteri hidup harus dikerjakan dengan berhati-hati, lebih baik jika yang diperiksa  bakteri patogen. Untuk mengetahui tingkah laku (gerak-gerik) bakteri, diadakan penelitian bakteri di dalam “tetesan bergantung“.

Alat-alat yang diperlukan untuk kegiatan ini adalah:

  1. Sehelai kaca penutup (cover glass) yang bersih.
  2. Sehelai kaca benda yang mempunyai cekungan di tengah-tengah.
  3. Kawat inokulasi, yaitu kawat lurus sepanjang ± 10 cm berdiameter kurang daripada 0,5 mm dan menancap pada suatu pegangan. Kegunaan kawat inokulasi ialah untuk memindahkan mikroorganisme dari tempat yang satu ke tempat yang lain. Lebih baik jika kawat inokulasi dibuat dari platina atau logam lain yang tidak mudah berkarat.
  4. Sebuah mikroskop.
  5. Lampu bunsen, yaitu sentir yang diisi dengan spiritus. Api ini diperlukan untuk memijarkan kawat inokulasi. Setiap kali kawat akan di pakai untuk memindahkan bakteri, sebelum dan sesudahnya dipijarkan supaya benar-benar steril.

Gambar 1. Mikroskop

 

 

g) Prosedur menyiapkan sediaan (Preparat)

Jika bakteri dipiara di dalam cairan maka ujung kawat inokulasi setelah dipijarkan dan dingin kembali, kemudian dicelupkan sedikit di dalam pemiaraan tersebut. Sentuhkanlah ujung kawat yang mengandung piaraan itu pada tengah kaca penutup kemudian balik kaca penutup dan letakkan di atas kaca benda demikian rupa, sehingga tetesan yang berisi bakteri masuk di dalam cekungan kaca benda. Setelah ujung kawat selesai dipakai perlu dipijarkan dalam nyala api. Kaca benda yang membawa tetesan bergantung dapat dipindahkan ke bawah lensa mikroskop untuk diperiksa. Agar cairan yang mengandung bakteri tidak menguap, tepi kaca penutup perlu diolesi vaselin. Perlu diperingatkan bahwa tepi mulut tabung reaksi tempat piaraan bakteri harus dipanasi dengan nyala api setelah kapas penyumbatnya diambil. Demikian pula, setelah pengambilan bakteri selesai dan kapas akan disumbatkan kembali maka mulut tabung piaraan harus dipanasi lagi. Memijarkan kawat inokulasi sebelum dan sesudah dipakai serta memanasi mulut tabung reaksi sebelum dan sesudah dipakai merupakan kebiasaan yang tidak boleh dilupakan. Hal ini merupakan apa yang disebut teknik aseptik. Keuntungan penggunaan metode “tetesan bergantung” ialah :

  1. Bakteri ada yang terkurung di dalam lubang kaca benda, sehingga bahaya terhamburnya ke mana-mana itu hampir tidak ada.
  2. Bakteri dapat bergerak dengan leluasa  jika bakteri memang suka bergerak. Tidak semua spesies dapat bergerak.

h) Membuat preparat bakteri yang sudah dimatikan terlebih dahulu.

Sediakan sehelai kaca benda yang bersih. Ambil sediikit sampel dari bakteri yang dipiara dalam medium cair atau dari suatu koloni yang terdapat pada suatu medium padat. Pengambilan itu dilakukan dengan menggunakan ujung kawat inokulasi. Gesekkan ujung kawat yang membawa bakteri itu di tengah kaca benda sehingga terjadi suatu pembidangan seluas kira-kira 1 cm2. Jika ujung kawat sejajar dengan permukaan kaca benda maka penggesekan lebih mudah dan merata. Bakteri tidak akan tertimbun pada suatu tempat tertentu.

Jika sampel diambil dari suatu koloni pada medium padat maka tengah kaca benda harus diberi sedikit air murni dulu sebelum penggesekan dilakukan. Air tidak perlu diberikan jika sampel bakteri diambil dari piaraan yang berada dalam medium cair. Tunggu sampai gesekan agak kering kemudian lewatkan kaca benda melalui suatu nyala api, secara perlahan sampai gesekan kering. Dalam hal ini harus dijaga agar tempat gesekan bakteri tersebut tidak langsung mengenai api, jadi permukaan yang mengandung gesekan haruslah diatas pada waktu kaca benda itu dilewatkan nyala api. Jika gesekan bakteri sudah kering dapat dimulai dengan pewarnaan bakteri.

Metode mewarnai atau mengecat preparat banyak berbagai macam cara kira-kira 12 cara saja yang umumnya digunakan. Bakteri hidup tidak tampak jelas bentuk maupun sifat-sifat morfologi lainnya. Bakteri tunggal yaitu berupa satu sel yang tampak bening walaupun bakteri itu berasal dari suatu koloni yang mempunyai warna tertentu. Maka untuk memperlihatkan bagian-bagian sel diperlukan pewarnaan. Untuk memperlihatkan inti atau bahan inti ada pewarnaan tersendiri, memperlihatkan flagel ada cara lain lagi demikian pula untuk memperlihatkan spora ada cara yang khusus. Cara-cara mewarnai itu ditemukan oleh sarjana-sarjana, sehingga seringkali metode pewarnaan disebut menurut nama sarjana yang menemukan cara tersebut. Misalnya, pewarnaan inti disebut juga pewarnaan secara Feulgen. Kemudian ada pewarnaan secara Giemsa, pewarnaan secara Gram , secara Neisser, dan lain-lain. Zat warna yang digunakan bisa biru metilen, merah safranin, ungu, hijau berlian dan lain-lain. Disamping itu zat warna bisa bersifat asam, netral atau basa.

i) Faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan bakteri

Ada beberapa faktor yang mempengaruhi pertumbuhan bakteri, diantaranya :

1. Nutrisi

2. Media

3. Kondisi Fisik : suhu, oksigen, pH, lingkungan

Nutrisi bakteri diperlukan untuk pertumbuhan dan fungsinya yang normal. Sehingga diketahui beberapa tipe nutrisi bakteri :

a)       Kebutuhan energi untuk bakteri, ada bakteri yang menggunakan cahaya sebagai sumber energi dinamakan fototrof. Sebagian bakteri menggunakan senyawa-senyawa kimia sebagai sumber energinya dinamakan kemotrof.

b)       Kebutuhan karbon untuk bakteri, Banyak bakteri yang membutuhkan karbon dioksida sebagai sumber karbonnya dinamakan autotrof. Bila memperoleh energinya dari cahaya dinamakan fotoautotrof. Apabila bakteri autotrof yang memperoleh sumber energinya dari senyawa kimia dinamakan kemoautotrof. Sebagian bakteri memperoleh sumber karbonnya dari senyawa organik dinamakan heterotrof.

c)       Kebutuhan nitrogen untuk bakteri. Beberapa tipe bakteri menggunakan senyawa nitrogen anorganik dan yang lain membutuhkan nitrogen dalam bentuk senyawa nitrogen organik.

d)       Kebutuhan belerang (sulfur) dan fosfor untuk bakteri berasal dari senyawa sulfur organik, sedangkan fosfor diberikan sebagai fosfat yaitu garam-garam fosfat.

e)       Kebutuhan beberapa unsur logam, natrium, kalium, kalsium, magnesium, mangan, besi, seng, tembaga dan kobalt untuk pertumbuhannya yang normal. Jumlah yang dibutuhkan amat kecil dalam ppm (parts per million=persejuta).

f)        Kebutuhan vitamin. Beberapa bakteri mamu memenuhi kebutuhan vitaminnya dari senyawa-senyawa lain di dalam medium.

g)       Kebutuhan air untuk fungsi metabolik dan pertumbuhannya.

Media untuk menumbuhkan dan mengembangbiakan mikroba diperlukan suatu substrat yang disebut media. Media dapat dibuat dari bahan alam seperti toge, kentang, wortel, daging, telur, susu ataupun dari bahan buatan yaitu senyawaan kimia organik atau anorganik.

Syarat media :

1.Mengandung semua unsur hara yang diperlukan

2.Memenuhi semua faktor yang dibutuhkan oleh mikroba, seperti pH.

3.Harus dalam keadaan steril.

Kondisi fisik :

  1. Suhu : proses pertumbuhan tergantung pada reaksi kimiawi dan laju reaksi kimia dipengaruhi oleh suhu. Sehingga pertumbuhan bakteri sangat dipengaruhi oleh suhu. Berdasarkan suhu bakteri dibagi menjadi beberapa kelompok, diantaranya :

-          Psikrofil , bakteri yang tumbuh pada suhu 0 sampai 30 derajat celsius

-          Mesofil merupakan kelompok bakteri yang tumbuh pada suhu 25 sampai 40 derajat celsius

-          Termofil yaitu bakteri yang tumbuh pada suhu 50 derajat celsius atau lebih.

  1. Oksigen : gas utama yang mempengaruhi pertumbuhan bakteri ialah oksigen dan karbon dioksida. Berdasarkan kebutuhan oksigen, bakteri dibagi menjadi empat kelompok yaitu :

-          Aerobik yaitu bakteri yang membutuhkan oksigen

-          Anaerobik yaitu bakteri yang dapat tumbuh tanpa oksigen

-          Anaerobik fakultatif yaitu bakteri yang dapat tumbuh pada keadaan aerob maupun anaerob.

-          Mikroaerofilik yaitu bakteri yang tumbuh baik bila ada oksigen sedikit

-          Kapnofilik yaitu bakteri yang membutuhkan oksigen tetapi membutuhkan CO2

  1. pH Untuk pertumbuhan bakteri membutuhkan pH optimum terletak antara 6,5 dan 7,5. Tetapi ada beberapa bakteri yang dapat tumbuh pada pH rendah , atau tumbuh pada pH tinggi (basa). Kondisi fisik perlu dipertimbangkan di dalam penyediaan kondisi optimum untuk pertumbuhan bakteri. Pada kondisi lain, yaitu pada konsentrasi garam tinggi dikenal bakteri halofilik yaitu bakteri yang dapat hidup pada air asin di laut. Mikroorganisme yang membutuhkan konsentrasi garam tinggi untuk pertumbuhannya disebut halofil obligat. Bakteri yang dapat tumbuh pada keadaan tanpa garam maupun mengandung garam disebut halofil fakultatif. Cara bakteri memperbanyak diri yaitu dengan pembelahan sel secara aseksual dengan pembelahan biner melintang.

2.1.3 KAPANG (FUNGI=jamur)

Kapang adalah kelompok mikroba yang tergolong dalam fungi, ilmu yang mempelajari mengenai fungi disebut mikologi. Fungi adalah organisme heterotrofik untuk nutrisinya memerlukan senyawa organik.

Beberapa fungi hidup dari benda organik mati yang terlarut , mikroorganisme ini disebut saprofit. Segi positif dari fungi berperan penting dalam industri fermentasi dan produksi antibiotik seperti penisilin. Tetapi segi negatifnya yaitu sebagai parasit pada tumbuh-tumbuhan, hewan dan manusia.

a) Morfologi kapang.

Fungi lebih besar dari bakteri , ukuran fungi berkisar 1 sampai 5 μm lebarnya dan panjangnya 5 sampai 30 μm atau lebih.

Sifat-sifat umum fungi

Kelompok eukariotik yang mempunyai ciri-ciri sebagai berikut :

1)       Mempunyai inti sel.

2)       Memproduksi spora.

3)       Tidak berklorofil sehingga tidak dapat melakukan fotosintesa.

4)       Berkembang biak secara seksual dan aseksual

Fungi dapat mensintesa protein dengan mengambil sumber karbon dari karbohidrat (glukosa, sukrosa dan maltosa), sumber nitrogen dari bahan organik atau bahan anorganik (amonium dan nitrat), dan mineral dari substratnya.

b) Klasifikasi kapang.

Fungi tergolong Eumycetes, terdiri dari 4 kelas :

1. Phycomycetes

2. Ascomycetes

3. Basidiomycetes

4. Deuteromycetes

Fungi / kapang adalah fungi multiselular yang mempunyai filamen. Tubuh kapang terdiri dari 2 bagian : misellium dan spora. Misellium merupakan kumpulan beberapa filamen yang dinamakan hifa.

Hifa ada dua macam :

1)       Hifa vegetatif untuk tumbuh

2)       Hifa fertil untuk reproduksi.

Kapang dapat dibedakan atas dua kelompok berdasarkan struktur hifa :

1)       Hifa tidak bersekat, contoh Phycomycetes

2)       Hifa bersekat, contoh Ascomycetes, dan Basidiomycetes

c) Reproduksi kapang.

Ada dua macam reproduksi dari fungi :

1)       Seksual : peleburan nukleus dari dua sel induknya.

2)       Aseksual : pembelahan (membelah diri), penguncupan (sel anak tumbuh dari penonjolan kecil) atau pembentukan spora.

Spora seksual                                                               Spora aseksual

1. Askospora                                                                 1. Konidiaspora

2. Basidiospora                                                              2. Sporangiospora

3. Zigospora                                                                  3. Oidium (artrospora)

4. Oospora                                                                    4. Klamidiospora

5. Blastospora.

c) Sifat fisiologi kapang.

Kapang adalah mikroorganisme aerobik sejati Heterotrof. Suhu optimum kapang saprofitik 22 sampai 30o C kapang patogen 30 sampai 370 C. Beberapa kapang psikotrofik dapat tumbuh pada suhu 0 derajat celcius. Sehingga dapat menyebabkan kerusakan pada daging atau sayur pada kulkas. Sumber karbon berasal dari bahan organik.

d) Faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan Kapang

1)       Air

2)       Suhu : kebanyakan kapang bersifat mesofilik dengan suhu optimum 25 – 30 derajat celcius tetapi ada yang dapat tumbuh pada 35 – 37 derajat celcius atau lebih contoh : Aspergillus. Beberapa kapang bersifat termofilik.

3)       Kebutuhan oksigen dan pH

Kapang bersifat aerobik PH 2 – 8,5 akan lebih baik pada kondisi asam (pH rendah).

4.)     Makanan. Kapang menggunakan makanan dari sederhana sampai kompleks. Umumnya dapat memproduksi enzim hidrolitik, misal : amilase, pektinase, proteinase dan lipase. Dapat tumbuh baik pada makanan yang mengandung pati.

5.)     Komponen penghambat. Beberapa kapang mengeluarkan komponen yang dapat menghambat organisme lain. Komponen itu disebut antibiotik penisilin yang diproduksi oleh Penicillium chrysogenum.

 

2.1.4 KHAMIR (ragi)

Khamir termasuk fungi bentuknya uniseluler. Reproduksi vegetatif dengan cara pertunasan. Khamir mudah dibedakan dari bakteri yaitu morfologi dan ukurannya lebih besar dari bakteri.

a) Morfologi Khamir.

  • Ukuran panjang 1 – 5 mm sampai 20 – 50 mm.

Lebar 1 – 10 mm

  • Bentuk Sel Khamir

Bulat, oval, silinder , ogival (bulat panjang dengan salah satu ujung runcing ), Segitiga melengkung (triangular), berbentuk botol, apikulat atau lemon.

 

 

b) Struktur Khamir.

Morfologi khamir dapat diamati dengan menggunakan beberapa cara yaitu pengamatan langsung dengan mikroskop.

  • Kapsul

Beberapa khamir mempunyai kapsul yaitu komponen ekstraseluler yang berlendir. Kapsul menutupi bagian luar dinding sel dan terdiri dari : polisakarida.

  • Dinding Sel

Dinding sel khamir pada sel-sel yang masih muda sangat tipis, semakin tua semakin tebal.

Dinding sel khamir terdiri dari :

1)       Glukan khamir

2)       Mannan khamir

3)       Protein

4)       Khitin

5)       Lipid

  • Membran sitoplama

Terletak di sebelah dalam dinding sel. Membran ini memegang peranan penting dalam transpor makanan ke dalam sel.

  • Nukleus (inti sel)

Dikelilingi oleh membran inti berlapis ganda. Kumpulan kromosom yang disebut kromatin akan terbagi dua jika sel khamir mengalami pembelahan.

  • Vakuola

Adalah kantung dari suatu cairan yang lebih bening dan lebih encer dibandingkan dengan sitoplasma.

  • Mitokondria

Merupakan strutur yang penting dalam aktivitas pernapasan khamir.

  • Globula Lipid

Kebanyakan khamir mengandung sedikit lipid dalam bentuk globula, yang dapat dilihat di bawah mikroskop dengan pewarnaan merah sudan atau hitam sudan.

  • Sitoplasma

Mengandung berbagai komponen yaitu glikogen khamir yang merupakan bentuk penyimpanan karbohidrat, asam ribonukleat dan protein. Asam ribonukleat dan protein terdapat dalam granula yang mengandung RNA, yaitu ribosoma.

c) Sistem Reproduksi Khamir.

Khamir dapat melakukan reproduksi atau perkembangbiakan dengan beberapa cara, yaitu :

1. Pembelahan

2. Buding (tunas)

3. Pembelahan tunas

4. Sporuilasi

a. spora aseksual

b. spora seksual

d) Sifat Fisiologi Khamir

Faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan khamir, diantaranya :

1. kandungan makanan dalam substrat

2. pH

3. Suhu

4. Oksigen

5. Komponen penghambat

Suhu optimum 25 – 30 derajat celcius

Suhu maksimum 35 – 47 derajat celcius

Beberapa khamir dapat tumbuh pada suhu nol derajat celcius. pH yang disukai adalah asam 4 – 4,5 dan tidak dapat tumbuh dengan baik pada keadaan alkali. Khamir tumbuh baik pada keadaan aerobik, tetapi bersifat fermentatif dapat tumbuh secara anaerobik meskipun lambat.

e) Pemanfaatan Khamir

Khamir terutama merupakan organisme yang bersifat saprofitik terdapat pada daun-daun, bunga-bunga dan eksudat dari tanaman. Serangga bertindak sebagai perantara memindahkan khamir dari satu tanaman ke tanaman lainnya. Khamir dapat diisolasi dari tanah, Khamir banyak terdapat pada buah-buahan dan daun-daun yang membusuk. Lingkungan yang bergula dan pH rendah seperti buah-buahan dan sirup merupakan tempat yang baik bagi pertumbuhan khamir. Beberapa spesies khamir bergabung dengan saluran alat pencernaan pada hewan berdarah panas. Beberapa spesies khamir dapat bersifat patogenik bagi manusia.

Khamir mempunyai peranan penting dalam industri makanan . Seperti dalam pembuatan bir, anggur, roti dan produk makanan fermentasi dan merupakan sumber potensial dari protein sel tunggal untuk fortifikasi makan ternak.

f) Tahap Pengenceran

 

2.1.5 MIKROORGANISME

a) Pemanfaatan mikroorganisme

Peranan mikroorganisme di dunia ini bervariasi, sebagian dari mikroorganisme ini ada yang menguntungkan bagi manusia, hewan maupun tumbuhan dan sebagian mikroorganisme ada yang merugikan bagi manusia, hewan dan tumbuhan. Mikroorganisme yang merugikan umumnya dapat menyebabkan penyakit pada manusia, hewan maupun tumbuhan.

Mikroorganisme tersebar luas di alam lingkungan, dan sebagai akibatnya produk pangan asal hewani maupun nabati jarang sekali yang steril dan umumnya tercemar oleh berbagai jenis mikroorganisme.

Makanan yang disukai manusia, pada umumnya juga disukai oleh mikroorganisme. Dengan demikian mikroorganisme sebenarnya merupakan saingan manusia.

Banyak virus, bakteri dan jamur menyerang makanan yang masih berupa bahan mentah seperti sayur-sayuran, buah-buahan, susu, daging, dan menyerang makanan yang sudah dimasak seperti nasi, roti, kue-kue, lauk-pauk dan sebagainya. Makanan yang telah dihinggapi mikroorganisme itu mengalami penguraian (perubahan fisik dan kimiawi yang tidak diinginkan) sehingga dapat berkurang nilai gizi dan kelezatannya, bahan makan yang telah terurai berarti telah berkurang nilai gizinya dan mengalami kerusakan, apabila dimakan oleh manusia dapat menyebabkan sakit. Keadaan ini disebabkan karena mikroorganisme dapat mengeluarkan racun. Oleh karena itu manusia telah banyak berusaha untuk menanggulangi pencemaran oleh mikroorganisme.

Bakteri yang tumbuh dalam makanan, akan mengubah makanan menjadi zat-zat organik yang berkurang energinya. Dalam proses tersebut bakteri memperoleh energi yang dibutuhkan. Hasil metabolisme spesies-spesies tertentu digemari oleh manusia, misalnya alkohol sebagai hasil metabolisme Saccharomyces cerevisiae, cuka sebagai hasil fermentasi acetobacter sp. Akan tetapi ada beberapa spesies yang hasil metabolismenya merupakan eksotoksin yang berbahaya bagi kesehatan manusia. Jika toksin itu masuk dalam alat pencernaan manusia, dapat timbul gejala-gejala keracunan seperti perut sakit, muntah-muntah, diare.

Bahan pangan dapat bertindak sebagai perantara atau substrat untuk tumbuh mikroorganisme yang bersifat patogenik terhadap manusia. Penyakit menular yang cukup berbahaya seperti tipes, kolera, disentri, TBC dan poliomilitis dengan mudah disebarkan melalui bahan bahan pangan.

Sebaliknya, ada beberapa jenis makanan dan minuman yang perlu ditumbuhi oleh mikroorganisme terlebih dahulu supaya nilai gizinya meningkat yaitu melalui proses fermentasi demikian pula kelezatannya meningkat. Contohnya pada pembuatan keju, tempe, tape, minuman anggur, tuak, yoghurt, kefir, roti untuk makanan manusia. Sedangkan contoh untuk pakan hewan adalah silase.

b) Mikroorganisme Dalam Tanah

Tanah dapat bertindak sebagai medium pertumbuhan mikroorganisme karena mempunyai komponen-komponen organik yang merupakan substrat yang baik bagi kehidupan mikroorganisme. Mikroorganisme penghuni tanah merupakan campuran populasi dari protozoa, bakteri, jamur dan ragi. Pada umumnya mikroorganisme-mikroorganisme tersebut lebih banyak terdapat diatas atau dekat permukaan tanah. Makin masuk dalam tanah makin berkuranglah jumlah mikroorganisme tersebut.

Dalam tanah, populasi terbesar adalah bakteri autotrof dan bakteri saprofit. Bakteri parasit kurang dapat bertahan di dalam tanah disebabkan karena kondisi substrat dan karena kompetisi dengan mikroorganisme-mikroorganisme lain. Satu golongan bakteri yang khas penghuni tanah dan memberi bau tanah ialah genus Streptomyces.

Sayuran yang terfermentasi Hampir semua sayuran dapat mengalami fermentasi bertipe asam laktat, yang biasanya dilakukan oleh berbagai jenis Streptococcus, Lactobacillus, Leuconostoc dan Pedicoccus. Organisme -organisme ini mengubah gula yang terdapat dalam sayuran terutama menjadi asam laktat yang membatasi pertumbuhan mikroorganisme lain dan memberikan rasa yang unik pada sayuran yang terfermentasi dan disebut “Teracarkan”.

Contoh sayuran terfermentasi :

  1. Saurkraut (kubis asin)

mengandung bakteri Leuconostoc dan Lactobacillus, tidak perlu ditambah bakteri. Dan dicampur dengan 2,5% garam.

  1. Acar Mentimun

mengandung 5-9% garam dan bakteri Lactobacillus.

  1. Daging terfermentasi (sosis kering)

sosis tersebut disimpan pada suhu 80C selama 40 hari dan mengalami fermentasi, yang menghasilkan asam laktat. Garam bersama asam laktat akan mencegah pertumbuhan organisme lain.

Mikroorganisme dalam proses industri :

  1. BIR dibuat dari barley dan inokulumnya adalah Saccharomyces carlbergensis.
  2. Anggur dapat didefinisikan sebagai produk yang diperoleh dari fermentasi alkohol sari buah. Buah anggur mengandung 19-22% gula. Dibawa ke pabrik untuk dilepas tangkainya dan digiling. Pada bagian permukaan anggur mempunyai banyak khamir, fermentasi alami akan segera dimulai. Akan tetapi khamir ini mungkin memberikan cita rasa yang tidak diinginkan. Oleh karena itu ditambahkan sulfur dioksida (SO2). untuk mematikan sebagian besar organisme yang tidak diinginkan. Setelah beberapa jam dan anggur telah lumat, ditambahkan inokulum

Saccharomyces cerevisae . Fermentasi dibiarkan selama 3 -5 hari.,

menghsilkan minuman anggur yang mengandung alkohol 12-14%.

  1. Cuka : yang berperan adalah bakteri Acetobacter bakteri bentuk batang

kelompok gram negatif. Apabila Acetobacter mengoksidasi etanol yang

terdapat dalam minuman anggur , bir, apel hasilnya adalah cuka.

c) Pengendalian mikroorganisme

Metode Pengendalian Mikroorganisme adalah teknik mematikan mikroorganisme dan ditujukan terhadap menghilangkan semua mikroorganisme yang ada pada bahan atau alat.

Mikroorganisme dapat dikendalikan, yaitu dibasmi, dihambat atau ditiadakan dari suatu lingkungan, dengaan menggunakan berbagai proses atau sarana fisik. Diantaranya :

1) Pemanasan dengan suhu tinggi

Sterilisasi

Proses sterilisasi dipergunakan pada bidang mikrobiologi untuk mencegah pencemaran organisme luar, pada bidang bedah untuk mempertahankan keadaan asepsis, pada pembuatan makanan dan obat-obatan untuk menjamin keamanan terhadap pencemaran oeh mikroorganisme dan didalam bidang-bidang lain pun sterilisasi ini juga penting.

  • Sterilisasi : proses untuk membebaskan suatu benda dari semua mikroorganisme, baik bentuk vegetatif maupun bentuk spora.
  • Desinfeksi : proses mematikan semua mikroorganisme patogen yang dapat menyebabkan infeksi.
  • Asepsis : pencegahan infeksi dengan cara menghambat perkembang biakan kuman.
  • Cara-cara bakterisidal : cara-cara yang dapat membunuh kuman.
  • Zat-zat bakteriostatik : hanya dapat menghambat perkembang biakan kuman, sedangkan kumannya tetap hidup.

Secara umum ada dua cara sterilisasi

a. Fisik

1. Cahaya matahari

2. Pengeringan

3. Pemanasan kering

4. Pemanasan basah

5. Penyaringan

6. Radiasi

7. Getaran ultrasonik

b) Zat-zat kimia

1. Asam

2. Basa

3. Garam-garam

4. Halogen

5. Zat-zat pengoksidasi

6. Zat-zat pereduksi

7. Formaldehida

8. Fenol

9. Sabun

10. Zat-zat warna

11. Aerosol dan lain-lain

a) Sterilisasi Secara fisik :

1. Cahaya matahari

Mempunyai aktivitas bakterisidal yang cukup baik. Daya kerjanya berdasarkan adanya sinar ultra violet. Cara ini merupakan sterilisasi alamiah untuk air pada wadah terbuka, sungai dan danau.

2. Pengeringan

Pengeringaan sel mikroba serta lingkungannya sangat mengurangi atau menghentikan aktivitas metabolik. Diikuti dengan matinya sejumlah sel. Pada umumnya lamanya mikroorganisme bertahan hidup setelah pengeringan bervariasi tergantung dari faktor-faktor yang mempengaruhinya. yaitu :

a.)     Macam mikroorganisme.

b.)     Bahan pembawa yang akan dipakai untuk mengeringkan mikroorganisme.

c.)     Kesempurnaan proses pengeringan.

d.)     Kondisi fisik (cahaya, suhu, kelembaban yang dikenakan pada organisme yang dikeringkan.

Pengeringan di udara dapat membunuh sebagian besar kuman. Spora tidak terpengaruh oleh pengeringan, karena itu merupakan cara yang kurang memuaskan.

3. Pemanasan

Faktor-faktor yang mempengaruhi sterilisasi pemanasan ialah :

- Jenis pemanasan kering atau basah

- Suhu dan waktu

- Jumlah organisme yang ada

- Organisme memiliki kemampuan membuat spora

- Jenis bahan yang mengandung organisme yang harus dibunuh.

a)       Pemanasan kering

Dasar-dasar proses membunuh kuman dengan pemanasan kering ialah :

1. Denaturasi protein

2. Kerusakan akibat oksidasi

3. Efek toksis akibat kenaikan kadar elektrolit

-          Pemanasan langsung sampai merah

Digunakan untuk mensterilkan bahan-bahan logam dengan cara memanggangnya di atas nyala api sampai berwarna merah, misalnya sengkelit, alat penjepit dari logam dan lain-lain.

-          Melayangkan di atas api

Bahan yang disterilkan dilayangkan di atas api tanpa harus menjadi panas sekali, misalnya mulut tabung biakan kuman, tutup pembenihan dan gelas alas.

-          Pembakaran

Ini merupakan cara yang baik untuk menghancurkan bahan-bahan yang tidak dikehendaki dengan cepat, misalnya pembalut yang tercemar tanah, bangkai binatang, seprei/selimut, bahan-bahan patologis dan lain-lain.

-          Sterilisasi dengan udara panas

Sterilisasi dengan udara panas dianjurkan apabila penggunaan uap bertekanan tidak dikehendaki atau bila tidak dapat terjadi kontak antara uap bertekanan dengan benda yang akan disterilkan. Hal ini berlaku bagi alat-alat laboratorium. Sterilisasi dengan udara panas memerlukan suhu 160O C selama satu jam sampai dua jam. Dapat mensterilkan semua peralatan gelas, lempeng petri, tabung reaksi, erlenmeyer, pipet, usapan dari kapas, pisau bedah, gunting, parafin cair dan lain-lain.

Perhatian untuk penggunaan oven udara panas :

  1. Harus dilengkapi dengan kipas-kipas untuk menjamin pemerataan udara panas.
  2. Tidak boleh terlalu penuh.
  3. Harus dibiarkan mendingin selama 2 jam sebelum membuka pintu oven, kalau tidak barang-barang gelas dapat menjadi pecah.

Kontrol sterilisasi dengan oven udara panas :

  1. Spora Clostridium tetani jenis yang tidak toksigenik dapat dipergunakan untuk mengetahui efesiensi pemanasan kering.
  2. Tabung Browne (bertitik hijau) dapat dipakai untuk sterilisasi dengan pemanasan

kering.Warnanya menjadi hijau setelah dipanaskan pada suhu 160OC selama 60  menit.

3.   Dapat juga dipergunakan “Thermocouple”.

b) Pemanasan basah

Efek pemanasan basah adalah denaturasi dan koagulasi protein.

-          Suhu di bawah 100O C

-          Pasteurisasi susu : Suhu yang digunakan ialah 63OC selama 30 menit (cara Holder) atau 72OC selama 15 sampai 20 detik (cara flash). Kuman jenis Mycobacterium, Salmonella dan Brucella dapat dimatikan. Coxiella burnetti lebih tahan terhadap pemanasan, karena itu dapat tetap hidup pada pasteurisasi cara Holder.

-          Penangas vaksin. Dipergunakan untuk membunuh kuman-kuman tak berspora yang mungkin terdapat di dalam vaksin. Pada penangas vaksin, vaksin ini dipanaskan dengan pemanasan basah selama 1 jam.

-          Inspisasi. Pemadatan serum atau telur secara perlahan-lahan dengan memanaskan pada suhu 80OC di dalam inspirator misalnya untuk serum miring di dalam tabung, pembenihan Lowenstein Jensen dan lain-lain.

Cara-cara sterilisasi dengan suhu tinggi :

-          Tindalisasi. Cara ini dilakukan dengan memanaskan pembenihan pada suhu 100OC pada aliran uap selama 30 menit setiap hari  selama 3 hari berturut-turut. Mekanisme cara ini ialah bahwa sel-sel vegetatif dapat dibunuh pada suhu 100OC dan spora yang tertinggal dibiarkan tumbuh menjadi bentuk vegetaif selama satu hari dan akan mati pada pemenasan berikutnya. Cara ini dapat dipergunakan untuk mensterilkan pembenihan yang mengandung telur atau serum.

-          Mendidihkan. Sebagian besar kuman, jamur, dan virus dapat dibunuh dengan pemanasan pada suhu 50O C sampai 70OC dalam waktu singkat. Untuk sengkelit jarum dan alat-alat laboratorium pemanasan di dalam air mendidih selama 10 sampai 30 menit sudah cukup untuk mensterilkannya. Penambahan sedikit asam, basa, atau soda pembersih akan meningkatkan daya sterilisasi air mendidih. Spora virus dan hepatitis tidak dapat dibunuh dengan cara ini.

-          Pemanasan dalam uap air panas (100oC) dalam tekanan atmosfir. Di sini uap air bebas dipakai untuk mensterilkan pembenihan yang akan menjadi rusak pada suhu tinggi. Alat yang dipergunakan adalah dandang arnold. Cara ini merupakan cara sterilisasi yang murah.

-          Pemanasan menggunakan uap air dengan tekanan Untuk pemeriksaan bakteriologis dan proses pembedahan, pendidihan tidak cukup untuk mendapatkan keadaan steril, karena spora masih tetap hidup. Oleh sebab itu perlu alat sterilisasi dengan tekanan atau autoklaf.

c)       Sterilisasi dengan penyaringan

Cara sterilisasi ini berguna untuk larutan antibiotika, serum, larutan karbohidrat dan lain-lainnya. Dapat juga dipakai untuk memisahkan kuman dari toksin dan bakterifage. Juga dapat dipergunakan untuk menyaring kuman yang jumlahnya sedikit di dalam suatu cairan.

Kerugian cara penyaringan : virus dan mikoplasma dapat melewati saringan kuman, oleh sebab itu serum yang telah di saring tidak cukup aman untuk dipakai didalam klinik karena mungkin masih mengandung virus atau mikoplasma.

Jenis-jenis saringan kuman ialah :

-          Tabungporselen misalnya Berkefeld datau Chamberland

-          Filter piringan asbes misalnya Seitz

-          Filter dari gelas berlubang

-          Filter membran atau koloidon

Autoklaf

Autoklaf adalah alat sterilisasi yang mempergunakan uap dan tekanan yang diatur. Autoklaf merupakan ruang uap berdinding rangkap yang diisi dengan uap jenuh bebas udara dan dipertahankan pada suhu serta yang ditentukan selama periode waktu yang dikehendaki.

Pada alat ini bahan-bahan yang akan disterilkan dipanaskan sampai 121OC selama 15 sampai 20 menit pada tekanan uap 15 pon per inci persegi (kira-kira 1,5 atmosfir). Uap air jenuh memanaskan bahan-bahan tadi sehingga dengan cepat disterilakan dengan melepaskan panas yang laten. Dengan kondensasi sejumlah 1600 ml uap pada 100O C dan tekanan 1 atmosfir, akan terjadi embun sejumlah 1 ml dengan melepaskan 518 kalori. Air yang mengembun tadi akan menyebabkan keadaan lembab yang cukup untuk membunuh kuman. Udara merupakan penghatar panas yang buruk, oleh sebab itu harus dikeluarkan dari ruangan otoklaf. Rongga di dalam otoklaf tidak boleh terlalu penuh diisi dengan benda-benda yang akan disterilakan supaya dapat terjadi aliran uap yang cukup baik.

Autoklaf dipergunakan untuk mensterilkan pembenihan, barang-barang dari karet, semperit, baju, pembalut dan lain-lain.

-          Kontrol sterilisasi : (1) Bacillus sterothermophilus (II) Tabung Brownes (III)

-          Pita otoklaf (IV) Thermocouple.

Radiasi

-          Radiasi ultraviolet : Ultraviolet merupakan unsur bakterisidal utama pada sinar matahari yang meneyebabkan perubahan-perubahan di dalam sel berupa :

-          Denaturasi protein

-          Kerusakan DNA

-          Hambatan repikasi DNA

-          Pembetukan H2O2 dan peroksida organik di dalam pembenihan

-          Merangsang pembentukan kolisin pada kuman kolisigenik dengan

-          Merusak penghambatnya di dalam sitoplasma

-          Lampu ultraviolet dipergunakan untuk :

-          Membunuh mikrooganisme

-          Membuat vaksin kuman dan virus

-          Mencegah infeksi melalui udara pada ruang bedah, tempat-tempat

-          Umum dan laboratorium bakteriologis.

-          Radiasi sinar-X dan pengion lainnya :

Radiasi pengion memiliki kapasitas lebih besar untuk menginduksikan perubahan-perubahan yang mematikan pada DNA sel. Cara ini berguna untuk sterilisasi barang-barang sekali pakai misalnya benang bedah, semperit sekali pakai, pembalut lekat dan lain-lain.

2) Dengan cara kimiawi

Banyak zat kimia dapat menghambat atau mematikan mikroorganisme berkisar dari unsur logam berat seperti perak dan tembaga sampai kepada molekul organik yang komplek seperti persenyawaan amonium kuartener. Berbagai substansi tersebut menunjukkan efek antimikrobial dalam berbagai cara dan terhadap berbagai macam mikroorganisme. Efeknya terhadap permukaan benda atau bahan juga berbeda-beda. Ada yang serasi dan ada yang bersifat merusak. Oleh karena itu perlu diketahui perilaku bahan kimia yaang akan digunakan sebagai desinfektan.

Ciri-ciri desinfektan yang ideal yaitu :

-          Aktivitas antimikrobial, persyaratan yang pertama ialah kemampuan substansi untuk mematikan mikroorganisme. Pada konsentrasi rendah, zat tersebut harus mempunyai aktivitas antimikrobial dengan spektrum luas.

-          Kelarutan, harus dapat larut dalam air atau pelarut lain.

-          Stabilitas.

-          Tidak bersifat racun bagi manusia maupun hewan dan tumbuhan.

-          Homogenitas, harus mempunyai komposisi yang seragam sehingga bahan aktifnya selalu terdapat dalam setiap aplikasi.

-          Mempunyai aktivitas antimikrobial pada suhu kamar.

-          Kemampuan untuk menembus permukaan suatu barang.

-          Tidak bergabung dengan bahan organik.

-          Tidak menimbulkan karat dan warna.

-          Kemampuan menghilangkan bau yang kurang sedap.

-          Berkemampuan sebagai deterjen.

Suatu zat kimia bersifat bakteriostatik karena :

a.)     Pengumpalan protoplasma kuman, misalnya logam berat.

b.)     Kerusakan selaput sitoplasma oleh zat-zat kimia karena mengubah sifat-sifat     fisik dan kimiawi selaput sitoplasma sehingga membunuh atau menghambat pertumbuhan kuman.

c.)     Oksidasi atau pembakaran protoplasma kuman, misalnya halogen.

d.)     Mempengaruhi enzim-enzim atau koenzim kuman sehingga mengganggu metabolisme kuman.

Zat-zat kimia yang biasa dipakai sebagai antimikrobial

1)       Fenol dan persenyawaan fenolat

2)       Alkohol

3)       Halogen

4)       Logam berat dan persenyawaannya

5)       Deterjen

6)       Aldehide

7)       Kemosterilisator

Asam dan basa

Menghambat pertumbuhan kuman. Mycobacterium lebih kebal terhadap asam daripada basa. Contohnya ialah asam borat yang bersifat antiseptik ringan.

Air suling

Menyebabkan hilangnya viabilitas (daya hidup). Hal ini disebakan oleh adanya sedikit unsur logam pada air suling.

Ion-ion logam

HgCl2 dan AgNO3 menghambat pertumbuhan sebagian besar kuman pada kadar yang kurang dari 1 per sejuta. Daya kerjanya disebabkan oleh afinitas protein tertentu terhadap ion-ion logam.

Anion anorganik

Ion-ion ini kadang-kadang meracuni kuman, contohnya misalnya kalium telurit dapat menghambat kuman Gram negatif dan ion fluorida menghambat enzim-enzim kuman.

Halogen

Yodium terutama dipergunakan untuk kulit, klor bersenyawa dengan air membentuk asam hipoklorit yang bersifat bakterisidal.

Zat-zat pengoksidasi

Zat-zat ini bersifat antiseptik ringan, misalnya H2O2 dan kalium permanganat.

Formaldehida

Berguna untuk mensterilkan vaksin kuman dan untuk menginaktifkan toksin kuman tanpa mempengaruhi sifat antigenitasnya. Larutan formaldehida dengan kosentrasi 5 sampai 10 persen di dalam air akan membunuh sebagian besar kuman. Formaldehida bersifat bakterisidal, sporisidal, dan juga dapat membunuh virus.

Fenol

Dipergunakan untuk mensterilkan alat-alat bedah dan untuk membunuh kuman yang tercecer di laboratorium. Larutan yang dipakai biasanya berkadar 3 persen.

Sabun dan deterjen

Bersifat bakterisidal dan bakteristatik terhadap kuman Gram negatif dan beberapa jenis kuman tahan asam. Deterjen bekerja dengan cara berkumpul pada selaput sitoplasma kuman sehingga mengganggu fungsi normalnya atau dengan denaturasi protein dan enzim.

Alkohol

Etil alkohol sangat efektif pada kadar 70 persen daripada 100 persen. Tidak membunuh spora.

Zat warna

Ungu gentian, hijau malakit dan lain-lain bekerja terhadap kuman Gram positif. Penetrasinya rendah dan karennya hanya bersifat bakteriostatik. Aktiflavin bekerja terhadap stafilokokus dalam kadar 1 : 3.000.000.

Desinfektans dalam bentuk aerosol dan gas

Uap SO2, klor dan formalin dipergunakan sebagai desinfektan berupa gas, demikian juga propilen glikol yang merupakan desinfektan yang kuat.

2.2 LABORATORIUM KIMIA PANGAN

Analisis berasal dari kata “analusis” dari bahasa Yunani. Istilah tersebut kemudian diserap ke dalam bahasa Latin yang mempunyai arti yaitu “Ane = kembali” dan “Luein = melepas”. Berdasarkan asal kata itulah analisis kini diartikan sebagai upaya pemisahan atau penguraian satu kesatuan materi bahan menjadi komponen senyawa-senyawa penyusunnya, sehingga hasil (data) yang diperoleh dapat dikaji lebih lanjut. Dalam bahasa Inggris, “analysis” mempunyai pengertian analisis secara tunggal, sedangkan “ranalyses” mempunyai pengertian jamak.

Pangan adalah makanan atau bahan hasil pertanian dan olahannya yang layak dikonsumsi manusia. Bahan pangan dikenal memiliki sifat fisik, kimiawi, biologis, serta mampu menimbulkan selera dan manfaat untuk dikonsumsi. Oleh sebab itu, analisis pangan dapat dilakukan dengan menggunakan kaidah-kaidah fisik, kimiawi, biologi, inderawi atau sensorik, dan nutrisi atau gizi.

Tujuan analisis pangan antara lain yaitu :

-          Menguraikan komponen-komponen bahan pangan (baik jenis maupun jumlahnya), sehingga dapat disusun komposisi bahan tersebut.

-          Menentukan suatu komponen bahan untuk menentukan kualitas bahan pangan tersebut.

-          Menentukan komponen bahan untuk menyusun menu.

-          Menentukan ada/tidaknya bahan ikutan/tambahan dalam makanan.

-          Mendeteksi adanya bahan metabolik senyawa beracun dalam makanan.

-          Mengikuti terjadinya perubahan selama penanganan/pengolahan.

Komponen bahan pangan merupakan senyawa kimia yang memiliki karakteristik tertentu. Komponen utama bahan pangan terdiri dari air, protein, karbohidrat, vitamin, mineral dan beberapa senyawa minor lain. Akan tetapi, komponen bahan pangan tersebut sering dikelompokkan ke dalam tiga golongan yaitu air, makronutrien, dan mikronutrien. Menurut Sudarmadji et aI., (1996) komponen bahan pangan selain air, dapat dikelompokkan lebih lengkap, yaitu:

1)       Kelompok Makronutrien

a. Karbohidrat

b. Lemak

c. Protein

2)       Kelompok Mikronutrien

a. Vitamin

b. Mineral

3)       Kelompok Bahan Ikutan (Food ajunct)

a. Alkaloid (Kafein, nikotin, dll)

b. Anti gizi (Antitripsin, Fitat, dll)

c. Warna Alami

d. Aroma Alami

4)       Kelompok Bahan Tambahan (Food Aditive)

a. Pengawet

b. Penstabil

c. Pengental

d. Pewarna

e. Penyedap rasa

f. dll.

5)       Kelompok Bahan Metabolit

a. Disengaja (Alkohol, Iaktat)

b. Tak disengaja (Aflatoksin, senyawa beracun yang lain)

2.2.1 AIR

Air adalah senyawa yang paling berlimpah pada sistem kehidupan. Air menyusun hingga 70% atau lebih berat dari kebanyakan organisme. Air adalah pelarut polar yang dapat melarutkan sebagian besar biomolekul, yang umumnya merupakan senyawa bermuatan atau polar. Air murni pada tekanan 1 atm akan membeku atau meleleh pada suhu 0°C, dan mendidih atau mengembun pada suhu 100°C. Diantara pelarut-pelarut lainnya, air memiliki titik leleh, titik didih dan panas penguapan yang tertinggi. Hal ini disebabkan oleh adanya ikatan hidrogen yang menyebabkan kohesi internal yang kuat pada air cair. Ikatan hidrogen ini mudah terurai dan terbentuk kembali, sehingga panas yang diserap air tidak langsung digunakan untuk melepas molekul air menjadi gas, melainkan digunakan untuk memecahkan ikatan hidrogen antar molekul air, dan begitu pecah, ikatan ini dapat segera terbentuk kembali, Ikatan ini tidak akan terbentuk kembali saat suhu air telah mencapai titik didih, dan molekul air bergerak terlalu cepat .

Sifat koligatif air adalah karakteristik air yang ditentukan oleh konsentrasi dari molekul atau ion yang terlarut dalam air. Sifat koligatif mencakup penurunan titik beku, peningkatan titik didih, penurunan tekanan uap dan kenaikan tekanan osmotik. Semakin banyak zat yang terlarut, sifat-sifat koligatif ini akan semakin meningkat.

Titik didih air juga dipengaruhi oleh tekanan udara dimana proses pendidihan itu terjadi. Salah satu faktor yang mempengaruhi tekanan udara adalah ketinggian (altitude) suatu daerah, sehingga semakin tinggi daerah tersebut, tekanan semakin menurun dan titik didih semakin rendah.

Air ledeng dapat berasal dari air tanah dalam, mata air atau air permukaan. Air yang berasal dari air tanah dalam dan mata air cenderung lebih murni dibadingkan dengan air permukaan yang telah berinteraksi dengan berbagai zat. Air ledeng dapat mengandung berbagai zat yang umumnya terikut karena pengikisan air, seperti besi, mangan, nitrit, sulfat dan klorida.

Kadar air merupakan banyaknya air yang terkandung dalam bahan yang dinyatakan dalam persen. Kadar air dihitung dengan rumus:

Kadar air      = Berat basah – Berat kering x 100%

                  Berat awal sampel

Berat basah adalah berat bahan mula-mula. Berat kering adalah berat bahan setelah dilakukan pengeringan. Pengeringan ini dapat dilakukan dengan cara mengoven bahan sehingga seluruh airnya menguap. Cara terbaik melakukan pengeringan adalah dengan menggunakan drying oven dengan suhu 70°C selama semalaman atau 24 jam. Saat air menguap, otomatis berat bahan akan berkurang. Jumlah pengurangan ini dianggap sebagai selisih antar berat basah dan berat kering. Perbandingan dari pengurangan berat dan berat awal inilah yang kemudian diubah menjadi persen dan kadar air ditemukan. Pada organ tumbuhan, kadar air sangat bervariasi, tergantung dari jenis tumbuhan, struktur dan usia dari jaringan organ. Pada tumbuhan herba, salah satunya Spinacia oleracea (bayam) yang tidak memiliki kambium, tumbuhan dapat tegak sepenuhnya hanya karena tekanan turgor. Tekanan turgor ini disebabkan oleh kandungan air, sehingga kadar air yang tinggi didominasi oleh batang.

Air mengion sedikit, membentuk ion- ion H+ dan OH- di dalam larutan encer, konsentrasi ion H+ dan OH- dipengaruhi  oleh persamaan :

kw= [H+][OH-]= 1 x 10-14 (pada 250C).

Konsentrasi ion hidrogen pada sistem biologi biasanya dinyatakan dalam istilah pH, yang didefinisikan sebagai pH=-log[H+]. pH larutan encer diukur oleh elektrode gelas yang sensitif terhadap konsentrasi H+. Air murni memiliki pH 7, karena jumlah ion H+ dan OH- yang setara, dan karena sifat ini juga, air tidak mampu mempertahankan pHnya bila ditambah asam atau basa.

Buffer

Larutan penyangga atau larutan buffer merupakan suatu larutan yang dapat mempertahankan nilai pH tertentu. Adapun sifat yang paling menonjol dari buffer ini seperti pH buffer hanya berubah sedikit pada penambahan sedikit asam atau basa. Buffer yang bersifat asam memiliki pH kurang dari 7 sedangkan buffer basa memiliki pH lebih dari 7. Buffer yang bersifat asam biasanya terbuat dari asam lemah dan basa konjugatnya. Sedangkan buffer yang bersifat basa biasanya terbuat dari basa lemah dan asam konjugatnya.

Buffer fosfat adalah buffer netral dengan kisaran pH 7. Pada makhluk hidup, buffer fosfat umumnya terdapat pada sitoplasma sel. Buffer fosfat dapat dibuat dengan menggunakan monosodium fosfat (NaH2PO4) dan basa konjugatnya yaitu disodium fosfat (Na2HPO4).

Bila ditambah sedikit asam, komponen buffer yang bersifat basa akan mengikat ion H+ sehingga jumlah ion H+ tidak bertambah dan pH tidak menurun. Bila ditambahkan sedikt basa, komponen buffer yang bersifat asam akan mengikat ion OH- sehingga jumlah ion OH- tidak bertambah dan pH tidak meningkat. Buffer umumnya memiliki kapasitas penyangga dengan rentang 1 nilai pH diatas dan dibawah pH normal buffer tersebut.

Larutan blanko

Larutan blanko adalah larutan tidak berisi analit. Larutan blanko biasanya digunakan untuk tujuan kalibrasi sebagai larutan pembanding dalam analisis fotometri. Larutan blanko dapat dibagi menjadi 3 jenis yaitu :

  • Kalibrasi blanko (larutan  yang digunakan untuk membuat titik nol konsentrasi dari grafik kalibrasi; larutan ini hanya berisi pengencer digunakan untuk membuat larutan standar).
  • Reagen blanko (larutan berisi reagen yang digunakan untuk melarutkan sampel, pembacaan absorbansi untuk larutan ini biasanya dikurangi dari pembacaan sampel).
  • Metode blanko (larutan  yang diperlakukan sama dengan sampel, ditambah dengan reagen yang sama, mengalamai kontak dengan alat yang sama dan diperlakukan dengan prosedur yang sama)

2.3 THP SNACK & BAKERY

Roti dalam produk pangan termasuk kategori produk bakery. Bakery adalah produk makanan yang bahan bakunya adalah tepung (mayoritasnya terigu). Dalam proses pengolahannya melibatkan pemanggangan. Selain roti, banyak contoh lain yang masuk ke dalam kategori bakery. Misalnya, bagel, bread crumb, biskuit, croissant, cookies, cracker, kue lapis, muffin, pancake, pastry, pies, pizza, pretzel, roll, dan wafer, Selain itu, donut pun termasuk dalam rombongan.

Produk bakery termasuk mudah untuk dikreasikan. Selain prosesnya tidaklah rumit, bahan-bahannya juga gampang ditemukan. Oleh karena itu, bahan-bahan bakery sudah umum dijabarkan. Terutama bagi ibu-ibu yang mempunyai kegemaran untuk membuat roti dan kue sebagai penganan atau komoditas jualan.

Bahan utama produk bakery sudah disinggung, yakni tepung. Jenis tepung yang biasa dipakai ialah terigu. Selain itu, ada juga tepung yang berasal dari serealia (biji-bijian) yang lain. Misalnya durum, rye, triticale (hasil persilangan terigu dan rye), beras, millet, jagung, oat, dan barley. Masing-masing tepung mempunyai sifat sendiri-sendiri dan oleh karena itu, produk yang dihasilkan akan berbeda pula.

Salah satu kelebihan yang dimiliki oleh terigu adalah dapat mengembang. Karena terigu mengandung gluten (protein). Berbagai aplikasi pembuatan produk berbasis terigu, sangat tergantung kepada kandungan glutennya. Dengan bahan pengembang (leavener) tertentu yang berinteraksi dengan gluten, maka adonan kue yang menggunakan terigu tersebut akan mengembang. Bahan pengembang yang biasa digunakan adalah ragi, baking soda/soda kue, baking powder, tartaric acid, atau cream of tartar.

Untuk menghasilkan sifat fisik dan kimia tertentu, shortening perlu hadir dalam formula adonan. Shortening adalah bahan yang bisa berwujud lemak atau minyak, atau bahan yang berasal dari turunan keduanya, digunakan dalam adonan (dough atau batter). Lemak berwujud padat pada suhu ruang, sementara minyak, cair. Bahan yang sama jika terdapat pada produk lain seperti whipped topping, buttercream icing, fatty coating, minyak goreng, atau bahan pengoles loyang, tidak bisa diistilahkan sebagai shortening. Jadi, istilah shortening sendiri lebih mengacu kepada fungsi, bukan pada jenis atau sumber bahannya.

Beberapa produk bakery tidak ditambahkan pemanis (sweetener). Tetapi banyak juga yang menggunakannya. Sesungguhnya pada roti tawar dan roll sekalipun, tetap ditambahkan gula dalam jumlah kecil. Selain berfungsi untuk meningkatkan cita rasa, gula tersebut digunakan ragi sebagai nutrien untuk tumbuh. Alhasil, aktivitas ragi dalam mengembangkan adonan berjalan sebagaimana mestinya.

Bahan yang tak kalah pentingnya adalah air dan garam. Walaupun mempunyai peran yang berbeda, hubungan keduanya menentukan untuk memperbaiki sifat adonan. Konsentrasi garam yang terlarut dalam air, kaitan antara kandungan garam dengan air bebas, mempunyai efek pada laju fermentasi (proses pengembangan adonan yang menggunakan ragi), daya kerja gluten, dan lebih jauh lagi berpengaruh kepada soal rasa.

Bahan yang juga senantiasa hadir dalam adonan produk bakery adalah telur dan susu atau produk turunan susu. Kedua bahan ini, sudah berabad-abad digunakan sebagai bahan pastry. Tetapi untuk beberapa aplikasi tertentu karena kandungan kolesterol keduanya, mulai dikurangi penggunaannya.

Bahan-bahan natural seperti buah, sayur, dan kacang, pun biasa disertakan dalam resep bakery. Bisa berbentuk kering atau pun sudah diolah. Misalnya almond, kelapa, kacang tanah, kacang mede, korma, kismis, selai buah, kentang, tomat, bawang, dan wortel.

Akan tetapi dalam pengayaan cita rasa dan penampilan, bahan-bahan lain juga berperan. Misalnya bumbu-bumbu (spices), perisa (flavor), dan pewarna. Bumbu-bumbu yang biasa digunakan adalah pala, seledri, kayu manis, cengkeh, jahe, paprika, lada, wijen, dan kunyit. Flavor yang ditambahkan bisa alami ataupun artifisial. Soal penampilan bisa dipecantik dengan pewarna, asal memang pewarna makanan. Bahan-bahan ini bisa berfungsi sebagai individual, atau berkolaborasi dalam bentuk topping, filling, glazing, icing, pasta, dan sebagainya.

Ragi sebenarnya adalah jasad renik (mikroorganisme). Jenisnya adalah saccaromyces cerevisiae. Jika air hadir dalam jumlah cukup, serta adanya gula sebagai sumber makanan bagi ragi, maka ragi tersebut akan dapat tumbuh. Sekaligus juga merubah gula menjadi karbondioksida dan senyawa beraroma. Karbondioksida tersebut tertahan di dalam gluten. Alhasil, adonan mengembang.

Yang perlu diperhatikan, untuk ragi yang banyak dijual di supermarket, adalah ragi instant. Karena berbentuk kering, maka ada bahan lain yang sering ditambahkan oleh produsen raginya. Misalnya anti gumpal (anticaking agent).

Anti gumpal mencegah terjadi penggumpalan ragi kering tersebut selama penyimpanan. Anti gumpal yang perlu dikritisi adalah E542 (edible bone phosphate) yang berasal dari tulang hewan. Selain itu, E570 (asam stearat) dan E572 (magnesium stearat). Asam stearat secara industri dapat diperoleh dari hewan atau tanaman. Sementara magnesium stearat, berbahan dasar asam stearat.

Termasuk di dalamnya roombutter (mentega yang berbau tajam).
Untuk pembuatan pastry, biasa juga digunakan korsvet. Korsvet adalah lemak yang berfungsi untuk memberikan lapisan (layer) pada pastry tersebut. Secara industri, disebut juga dengan istilah pastry margarine. Jenis pastry margarine sendiri terbagi dua, short pastry margarine dan puff pastry margarine. Dari segi asal short pastry margarine, bisa bersumber dari macam-macam lemak. Termasuk juga lard (lemak babi). Selain itu bisa berasal dari lemak sapi (tallow), minyak ikan, atau minyak nabati yang dijenuhkan, sehingga bisa berwujud padat pada suhu kamar.

Cake emulsifier, juga bisa digunakan dalam membuat kue. Fungsinya adalah penstabil dan pelembut adonan kue. Selain itu, bahan ini bisa menghemat pemakaian telur. Di pasar, cake emulsifier bisa berlabel nama dagang ovalet, SP, spontan 88, TBM.

Dough conditioner adalah bahan yang fungsinya adalah melembutkan adonan, mengembangkan adonan, atau bisa juga memperpanjang umur simpan. Multi fungsi bahan tersebut karena hadirnya beberapa bahan sekaligus yakni             L-sistein, tepung kedelai, asam askorbat, lemak, gula, pengawet, dan emulsifier.

Bahan-bahan pasta juga termasuk sebagai bahan pengisi (filling) seperti pasta pandan, atau bisa juga sebagai topping, glazing, atau icing. Terakhir, selain bahan, yang perlu juga dicermati adalah penggunaan kuas. Kuas biasa digunakan untuk mengoles loyang, atau mengoleskan mentega atau margarine diatas produk bakery tersebut.

2.3.1 Teknik pembuatan roti

Sebelum membuat roti, maka langkah pertama yang harus dilakukan adalah menyiapkan bahan – bahan yang diperlukan ( Preparation ). Kita harus mengetahui sifat dari bahan –bahan yang diperlukan, apakah bahan tersebut mudah rusak, kuat karena disimpan dalam kaleng hampa udara atau semi kuat misalnya terigu dan gula merah.
Pilihlah bahan – bahan yang berkualitas baik, dan tentunya cari bahan dengan harga yang layak, sediakan tempat penyimpanan yang sesuai dengan bahan tersebut ( Room Tempearature, Chiller Temperature dan Frezeer Temperature ) agar bahan tersebut akan dalam kondisi yang baik.

Mengapa harus mempunyai tempat penyimpanan yang baik ? karena disamping bahan tersebut tidak cepat rusak, dapat menyimpan bahan tersebut dalam jumlah yang cukup sebagai persediaan. Hindarkan penyusutan dan kerusakan akibat terlalu banyak persediaan/overstock.

Setelah bahan tersedia, mulailah dengan penimbangan ( Scaling ), hindarkan pemakaian sendok, satuan butir, serta takaran cangkir. Bahan – bahan yang sensitif seperti garam, yeast, atau zat additive harus ditimbang dengan tepat. Bertitik tolak dari semua ini , barulah pembuatan roti dimulai.

a.)     Pembuatan adonan ( Dough Making )

Semua bahan yang diperlukan diaduk atau dicampurkan menjadi satu sampai adonan menjadi rata, kenyal, elastis dan tidak lengket sesuai dengan konsistensi yang diperlukan oleh jenis roti yang akan dibuat ( Tingkat Kekalisan ). Pencampuran bahan – bahan atau pembuatan adonan ini, merupakan tahap pertama dari pembuatan roti. Untuk menghasilkan roti yang baik, pencampuran bahan – bahan perlu diperhatikan dengan seksama. Penyerapan air secara total baru dapat dicapai bila perkembangan glutennya cukup. Lamanya penyerapan air oleh tepung serta berkembangnya gluten hingga optimal sangat tergantung pada jenis tepung yang digunakan. Jangan pernah untuk mencampur yeast dengan gula dan garam karena akan mengakibatkan kerja yeast tidak maksimal.

  • Faktor – faktor yang mempengaruhi pencampuran adalah

-          Bentuk dari mesin pencampur, kecepatannya, kekuatan tepung untuk menyerap air, formula ( premix ), masa peragian serta jenis roti yang diinginkan. Suhu yang diperlukan adonan berkisar 25ºC – 28°C serta 20ºC – 25°C untuk sponge ( bisa disimpan dalam chiller ) Jika adonan diaduk melebihi batas waktu yang diperlukan, akan menghasilkan roti dengan volume yang sangat mempunyai remah dibagian dalam ( Runny ).

-          Pengadukan yang berlebihan akan menyebabkan panasnya adonan dan merusak susunan gluten serta mempercepat masa peragian sehingga akan mengakibatkan adonan akan mengulit dan mengerak sebelum dibakar dan biasanya akan menyebabkan pecahan-pecahan pada sisi-sisi roti.

b)       Peragian ( Bulk Fermentation )

Tahap peragian sangat penting karena rasa, volume, dan mutu simpan roti dipengaruhi oleh terlalu banyak dan kurangnya masa peragian.
Adonan yang diragikan dengan tepat akan menghasilkan roti dengan rasa yang lebih baik daripada roti yang kurang tetapi memakai banyak gula dan shortening. Umumnya dalam pembuatan roti hanya membubuhkan 2% ragi dari jumlah tepung dengan masa peragian yang normal yaitu antara 30 – 60 menit dengan suhu ruang antara 26ºC – 28°C sehingga akan menghasilkan roti dengan kualitas baik dengan rasa yang enak sekali. Selama peragian enzim-enzim ragi bereaksi dengan pati dan gula untuk membentuk gas CO2 dan alkohol yang membuat adonan menjadi ringan dan besar ( mengembang ). Selain mengembangkan adonan, alkohol juga berfungsi memberi aroma pada roti. Keasaman dari adonan memberi rasa dan memperlunak gluten.

  • Faktor-faktor yang mempengaruhi peragian :

-          Jumlah yeast dalam adonan

-          Temperature adonan

-          Ph atau keasaman

  • Peragian yang berlebihan dan berkekurangan

-          Bila adonan diragikan pada ruangan yang bersuhu tinggi, maka adonan akan cenderung berasap, dan warna remahnya keabu-abuan. Roti yang terbuat dari adonan yang terlalu lama peragiannya akan cepat menjadi apek/tengik dan remahnya menggumpal.

-          Adonan yang diragikan terlalu lama akan menjadi lembek dan lengket, sehingga akan menghasilkan roti yang kurang menarik, karena harus menggunakan banyak tepung pemupur sewaktu pembentukan dan penimbangan adonan.

-          Volume akhir akan berkurang, disamping itu proses pembakarannya akan sukar karena warna kulit sukar terbentuk.

-          Adonan yang kurang lama diragikan akan menghasilkan roti yang tidak begitu baik remahnya akan berwarna gelap dan pucat. Roti yang dibuat dari adonan ini sangant mudah meremah, mengembang lebar dan menipis . Hal ini dapat diketahui pada masa pengembangan sebelum pembentukan akhir.

c)       Pemerataan suhu adonan ( Knocking Back ) Selama peragian adonan mencapai ketinggian maksimal dan kemudian akan kembali menurun. Setelah adonan menurun, adonan perlu dipukul atau ditusuk atau dilipat-lipat beberapa kali untuk menyamaratakan suhu adonan, untuk menghilangkan atau mengeluarkan CO2 dan menarik udara segar kedalam adonan. Bila terlalu banyak pukulan ( Punching knocking back ) maka adonan akan cenderung melawan. Perlu diingat bahwa setiap jenis tepung mempunyai waktu peragin optimum yang berbeda-beda, masing-masing tergantung dari sifat-sifat formulanya dan masa pencampurannya. Sangat penting untuk mengontrol suhu selama masa peragian, karena semakin tinggi suhu, semakin cepat masa peragiannya.

d)       Potong dan Timbang / Dividing Membagi-bagi adonan sesuai dengan berat yang dikehendaki. Satu hal yang harus diperhatikan dalam memotong serta menimbang ini adalah harus dikerjakan dalam waktu yang secepat mungkin agar hasil yang dicapai nanti volumenya sama atau seragam, mengingat peragian terus berjalan dalam seluruh proses.

e)       Pembentukan / Moulding  Untuk membentuk lapisan film dipermukaan adonan sehingga dapat menahan gas yang dihasilkan dari peragian, dan memberi bentuk supaya mudah dikerjakan.

f)        Istirahat / Intermediate Proof Membiarkan adonan istirahat untuk memudahkan pengontrolan / sheeting. Waktu intermediate proof berkisar antara 5 – 10 menit tergantung dari besar kecilnya adonan dan suhu ruangan dan adonan itu sendiri

g)       Tipiskan, pulung dan simpan dalam loyang ( Sheesting, Moulding dan Panning ) Pukulan adonan tersebut ( tipiskan ) agar gas didalamnya dapat keluar, tipiskan sesuai dengan ketebalan yang dikehendaki, lalu bentuk / pulung sesuai dengan bentuk dari produk yang akan dihasilkan. Letakkan diatas cetakan yang telah dilumuri minyak ( bila mengunakan cetakan Teflon tidak perlu di lumuri minyak/mentega ) dengan sambunagan disimpan dibawah, supaya tidak terbuka selama pengembangan dan pembakaran.

h)       Pengembangan Terakhir ( final proof ) Jika adonan dikembangkan tanpa tutup cetakan, maka tutuplah adonan tersebut dengan plastik/lap dengan tujuan agar adonan tidak mengulit.( untuk penggunaan menggunakan mesin proover tidak perlu ditutupi dengan kain atau plastic karena suhu dan kelembaban sudah diatur dengan baik ). Proofing ini dimaksudkan untuk mengembangkan adanan hingga mencapai bentuk dan mutu pengunyahan yang baik didalam hasil akhir.

  • Temperature proover ( tempat pengembangan 28 – 40°C tergantung dari jenis adonan ).
  • Kelembaban relatif 75 – 85 %, sesuai dengan keinginan tebal tipisnya kulit dan lamanya pengembangan berkisar antara 50 – 65 menit

i)         Proses Pembakaran Temperature yang digunakan untuk membakar roti sangat tergantung dari besar kecilnya dan jenis adonan yang akan dibakar, selain itu kandungan gulapun dapat mempengaruhi temperature dari panas yang diperlukan
Volume adonan bertambah dalam waktu 5 – 6 menit pertama didalam oven, karena suhu adonan pada saat itu belum mencapai 63ºC. dimana yeast masih dapat aktif bereaksi dan membentuk gas. Setelah suhu adonan lewat dari 63°C, yeast mati dan adonan berhenti mengembang, pengulitan dan penggulaian daripada zat gula yang ada pada lapisan atas dari adonan akan terjadi.
Dalam suhu inipun ( 62 – 82°C ) denaturasi dari protein dan gelatinisasi dari kanji terjadi. Untuk menghasilkan remah yang kukuh , maka panas didalam adonan harus mencapai 77°C minimum. Penguapan air dari adonan kira-kira 8-10 % dari berat total adonan.

j)         Dikeluarkan dari Cetakan Supaya roti tidak berkeringat, maka roti harus dikeluarkan dari cetakannya segera setelah roti tersebut keluar dari oven lalu didinginkan

k)       Pendinginan ( Cooling ) Roti sebaiknya didinginkan diatas rak ( cooling wire ), biasanya disimpan diruangan terbuka selama lebih kurang 45 – 70 menit, atau sampai roti tersebut benar-benar dingin sehingga mempermudah pemotongan. Agar menghasilkan potongan yang baik, disarankan menggunakan pisau sesuai dengan jenis pisau roti yang ada. Selama pendinginan ini berat roti akan berkurang sekitar 2 -3 %, karena zat cairnya menguap. Roti yang pendinginannya kurang baik akan dapat rusak dan tengik dan yang paling parah cepat berjamur.

l)         Pembungkus ( Wrapping ) Disesuaikan berdasarkan kebutuhan, dengan tidak mengesampingkan keindahan dan kekuatan. Roti dibungkus supaya tidak cepat kering dan berjamur sebelum waktunya.

2.3.2 Teknik Pembuatan Kue

Didalam pembuatan kue dikenal beberapa metode, masing-masing metode digunakan untuk jenis produk yang berbeda, atau untuk penggunaan bahan dan resep yang berbeda dari suatu produk. Metode tersebut diantaranya :

a)       Rub in Method Metode ini merupakan yang paling kuno, tetapi masih sering digunakan pada saat ini. Didalam metode ini pengembangan dari produk dibantu dengan penggunaan atau penambahan baking soda/ baking powder.
Tepung dan baking soda disaring bersama-sama ( biasa juga disebut dengan tepung self raisin ), kemudian lemak dicampur sampai menjadi butiran-butiran halus. Dari butiran-butiran ini dibuat sumur-sumuran, pencampuran dimulai dari tengah. Jika terdapat buah-buahan yang harus dicampur, maka buah tersebut dicampur paling akhir. Cara lain dari metode ini adalah lemak dan tepung dalam jumlah yang sama dikocok terlebih dahulu sampai halus, tambahkan cairan dan terakhir campurkan sisa tepung. Kedua cara diatas digunakan untuk membuat adonan pie, tetapi untuk adonan manis dapat digunakan cara lain yaitu, pertama gula dan lemak dikocok sampai halus lalu tambahkan telur, dan campurkan tepungnya, zat pewangi dan cairan dapat dicampurkan pada tahap akhir.

b)       Sugar Batter Method Metode ini digunakan untuk pembuatan kue yang berkualitas baik dan mempunyai proporsi lemak, gula dan telur yang tinggi berbanding dengan berat tepung. Secara komersil metode ini banyak digunakan karena pengerjaannya lebih mudah, proses pembuatan kue dengan cara ini dapat dilakukan dengan satu kali pengerjaan. Lemak dan gula dikocok terlebih dahulu sampai gulanya larut, pengembangan terjadi selama proses pengocokan ini, telur dimasukkan sedikit demi sedikit agar pengembangan tidak terganggu dan akhirnya pecah merusak adonan. Masukkan cairan lain dan tepung, jika menggunakan buah-buahan masukkan pada saat akhir pengocokan.

c)       Flour Batter Method Metode ini digunakan untuk setiap jenis produk dengan setiap kualitas. Pengembangan dari adonan sangat tergantung dari baik buruknya pengocokan campuran lemak, tepung dan telur. Pengembangan dapat dibantu dengan tambahan sedikit baking soda/powder. Lemak dan tepung dalam jumlah yang sama dikocok setengah mengembang, lalu dengan cara yang sangat hati-hati dicampurkan dengan campuran tepung dan lemak. Jika ada kelebihan gula dilarutkan kedalam cairan dan pewangi. Jika ada tambahan buah-buahan, dicampurkan pada tahap akhir pencampuran. Metode ini memerlukan pengerjaan yang sangat hati-hati dan juga lebih banyak memerlukan peralatan, tetapi akan sangat cocok untuk memproduksi kue dalam jumlah yang sangat besar dan dengan kualitas yang murah.

d)       Blending Method Metode ini digunakan untuk pembuatan kue yang menggunakan lemak dan tepung special. Pengerjaannya dilakukan dalam tiga tahap : Tahap pertama tepung disaring dengan sisa bahan kering lainnya lalu dicampurkan dengan lemak sampai terjadi butiran-butiran halus, lalu masukkan air perlahan-lahan hingga butiran-butiran halus berubah menjadi campuran yang halus, terakhir masukkan telur sedikit demi sedikit Agar adonan tidak mengeras selama pembakaran maka gunakan mesin dengan kecepatan rendah selama pembuatan adonan.

Pengolahan hasil pertanian merupakan salah satu kegiatan untuk meningkatkan nilai tambah, memperpanjang masa simpan dan edar, serta memperluas jangkauan pemasaran. Saat ini pengolahan pangan banyak dilakukan oleh industri rumah tangga dengan skala kecil dan menengah baik di perkotaan maupun di perdesaan.

Untuk menghasilkan pangan yang berkualitas dan meminimalkan pencemaran lingkungan, industri pangan perlu menerapkan prinsip pengolahan pangan yang baik dan pengelolaan lingkungan. Pengolahan pangan yang baik atau dikenal dengan good manufacturing practices/GMP adalah implementasi untuk menghasilkan produk pangan yang berkualitas berdasarkan aspek produksi. Sedangkan berdasarkan prinsip pengelolaan lingkungan penerapannya dilakukan melalui kegiatan sanitasi dan higiene pada setiap aspek produksi, dari bahan baku sampai menjadi produk.

Pangan adalah kebutuhan kebutuhan pokok manusia yang dibutuhkan setiap saat dan memerlukan pengelolaan yang baik dan benar agar bermanfaat bagi tubuh. Menurut WHO, yang dimaksud makanan adalah : “Food include all substances, whether in a natural state or in a manufactured or prepared form, which are part of human diet.” Batasan makanan tersebut tidak termasuk air, obat-obatan dan substansi-substansi yang diperlukan untuk tujuan pengobatan.

Makanan yang dikonsumsi hendaknya memenuhi kriteria bahwa makanan tersebut layak untuk dimakan dan tidak menimbulkan penyakit, diantaranya :

a.)     Berada dalam derajat kematangan yang dikehendaki

b.)     Bebas dari pencemaran di setiap tahap produksi dan penanganan selanjutnya.

c.)     Bebas dari perubahan fisik, kimia yang tidak dikehendaki, sebagai akibat dari pengaruh enzym, aktifitas mikroba, hewan pengerat, serangga, parasit dan kerusakan-kerusakan karena tekanan, pemasakan dan pengeringan.

d.)     Bebas dari mikroorganisme dan parasit yang menimbulkan penyakit yang dihantarkan oleh makanan (food borne illness).

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

METODOLOGI

 

3.1 WAKTU DAN TEMPAT PELAKSANAAN

3.1.1          Waktu Pelaksanaan

Praktek Kerja Industri (PRAKERIN) dilaksanakan pada tanggal 15 Juli –  15 Oktober 2010.

      3.1.2 Tempat Pelaksanaan

Praktek Kerja industri (PRAKERIN) ini dilaksanakan di Jurusan Teknologi Hasil Pertanian Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Brawijaya, Malang.

3.2 METODE

            Bentuk Praktek Kerja Industri  (PRAKERIN) ini berupa magang kerja yang berarti mengikuti praktek aktivitas yang sedang berlangsung di Jurusan Teknologi Hasil Pertanian Fakultas Teknologi Pertanian Di Universitas Brawijaya Malang dan melakukan kegiatan yang berkenaan dengan Laboratorium Mikrobiologi Pangan, Laboratorium Kimia Pangan dan THP Snack & Bakery. Adapun metode pelaksanaannya meliputi kegiatan sebagai berikut :

  1. Praktek kerja sesuai aktivitas yang ada Laboratorium Mikrobiologi Pangan, Laboratorium Kimia Pangan dan THP Snack & Bakery.
  2. Mengamati secara langsung proses praktikum yang ada di Laboratorium Mikrobiologi Pangan, Laboratorium Kimia Pangan dan THP Snack & Bakery.

3.3   MATERI KEGIATAN 

Materi yang dipelajari selama pelaksanaan kegiatan Praktek Kerja Industri adalah sebagai berikut :

  1. Praktikum di Laboratorium Mikrobiologi Pangan, kami memperoleh pengetahuan tentang :
  1. Pembuatan media agar.
  2. Sterillisasi media dan alat menggunakan autoklaf otomatis.
  3. Transfer kultur bakteri dari media padat ke padat dan media cair ke padat.
  4. Transfer kultur murni jamur dari media padat ke padat.
  5. Pewarnaan gram.
  6. Membuat media cair.
  7. Pengenceran.
  8. Sterilisasi ruangan dengan menggunakan bahan kimia (desinfektan).
  9. Analisis pati.
  10. Analisis antosianin.
  11. Analisis kadar air.
  12. Analisis vitamin c.
  13. Analisis total gula.
  14. Analisis β-Caroten.
  15. Analisis logam.
  16. Analisis amilosa.
  17. Analisis warna.
  18. Analisis viskositas.
  19. Pembuatan roti tigger.
  20. Pembuatan roti manis biasa.
  21. Pembuatan roll cake.
  22. Pembuatan sus kering.
  23. Pembuatan vla (untuk isi sus).
  24. Pembuatan toping moka.
  25. Pembuatan roti tawar.
  26. Pembuatan roti tawar gandum.
  27. Pembuatan brownies ketan hitam.
  28. Pembuatan pia.
  29. Pembuatan corn flake.
  30. Pembuatan lidah kucing.
  31. Pembuatan kastangeel.
  32. Pembuatan sagu keju.
  33. Pembuatan palm cookies.
  34. Pembuatan nastar.
  1. Praktikum di Laboratorium Kimia Pangan, kami memperoleh pengetahuan tentang:
  1. Praktikum di THP Snack & Bakery, kami memperoleh pengetahuan tentang :

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 KEGIATAN PRAKTEK KERJA INDUSTRI

4.1.1 Laboratorium Mikrobiologi Pangan

       a. Pembuatan media agar

Bahan : – MRSA (MRS. Agar) 62 gram /liter

- NA (Nutrient Agar) 28 gram/liter

- PDA (Potato Dextrose Agar) 39 gram/liter

- Aquadest

Alat : –   Gelas beaker

-          Gelas ukur

-          Tabung reaksi

-          Spatula

-          Kompor listrik (hot plate)

Cara pembuatan :

  1. Timbang masing-masing bahan.
  2. Masukkan bahan yang sudah ditimbang kedalam gelas beaker.
  3. Tuangkan aquadest yang sudah diukur kedalam gelas beaker yang sudah ada bahan medianya.
  4. Aduk terlebih dahulu, dan nyalakan kompor listrik. Panaskan sampai homogen sambil diaduk (hingga mendidih).
  5. Sebelum mendidih, siapkan tabung reaksi sebagai tempat media.
  6. Setelah mendidih, matikan kompor listrik.
  7. Tuang media yang dimasak tadi kedalam tabung reaksi yang sudah diukur.
  8. Tutup tabung reaksi dengan kapas diujung mulut tabung reaksi.
  9. Setelah tabung reaksi ditutup dengan kapas, jadikan satu lalu ditutup dengan kertas layang (yang kasar didalam, yang halus diluar). Diikat dengan karet pentil atas dan bawah.
  10. Setelah itu sterilkan menggunakan autoklaf selama 15 menit.
  11. Pemiringan media (agar miring).

 b. Sterilisasi media menggunakan autoklaf otomatis.

Bahan : – Media agar yang sudah siap untuk disterilkan

- Aquadest

Alat : –   Autoklaf otomatis

-          Kertas layang

-          Karet pentil

-          Kapas

-          Plastik besar

Cara kerja :

  1. Siapkan kapas yang dibentuk menggumpal.
  2. Tutupkan kapas pada mulut tabung.
  3. Setelah semua siap jadikan tabung reaksi menjadi satu, beri kertas layang dan digabung menjadi satu menggunakan karet pentil.
  4. Kemudian masukkan pada plastik besar.
  5. Sterilkan media agar dengan autoklaf selama 15 menit.

       c. Transfer kultur bakteri dari media padat ke padat dan media cair ke padat.

Bahan : – MRSA (MRS. Agar)

- NA (Nutrient Agar)

- Kultur bakteri

Alat : –   Kawat ose

-          Pembakar bunsen

-          Alkohol

-          Tabung reaksi

-          Tissue

-          Gelas beaker

-          Plastik kreb

-          Laminar Air Flow (LAF)

-          Korek api

-          Label

-          Tempat inkubasi bakteri

Cara kerja :

  1. Hidupkan laminar air flow (LAF).
  2. Hidupkan pembakar bunsen.
  3. Bakar kawat ose hingga merah membara.
  4. Ambil kultur bakteri yang akan ditransfer.
  5. Lepas kapas dan bakar mulut tabung reaksi (fungsinya untuk menjaga udara disekitarnya agar tetap steril).
  6. Ambil media yang akan ditransfer kultur bakteri.
  7. Oleskan bakteri yang ada pada kawat ose secara pelan-pelan pada media.
  8. Remajakan kultur bakteri di dalam inkubator bakteri dengan suhu 300C.

       d. Transfer kultur murni jamur dari media padat ke padat

Bahan : – Media agar miring padat

                        - Kultur jamur

Alat : –   Pembakar bunsen

-          Korek api

-          LAF jamur

-          Alkohol

-          Kawat ose

-          Plastik kreb

-          Label

-          Tempat inkubasi bakteri

Cara kerja :

  1. Hidupkan pembakar bunsen.
  2. Bakar kawat ose hingga merah membara.
  3. Ambil kultur jamur yang akan ditransfer.
  4. Lepas kapas dan bakar mulut tabung reaksi (menjaga udara disekitarnya agar tetap steril).
  5. Ambil media yang akan ditransfer kultur jamur.
  6. Oleskan kultur jamur yang ada pada kawat ose secara pelan-pelan pada media.
  7. Setelah transfer selesai remajakan kultur jamur di dalam inkubator selama 3 hari.

 e. Perwarnaan gram

Bahan : – Aquadest

- Biakkan (fermentum, plantarum, e-coli, casei, listeria, lactis)

- Zat warna (larutan kristal violet, larutan lugol, larutan aceton alkohol,

Larutan safranin)

Alat : –   Pipet tetes

-          Kaca preparat

-          Tissue

-          Korek api

-          Kipas

-          Gelas beaker

-          Bunsen

-          Label

Cara kerja :

  1. Ambil preparat, beri tanda bulat dibaliknya sebagai tanda batas.
  2. Kemudian beri aquadest dan fiksasi diatas api.
  3. Beri larutan kristal violet (1 menit), cuci dengan aquadest.
  4. Beri larutan lugol (1 menit), cuci dengan aquadest.
  5. Beri larutan aceton (10-20 detik), cuci dengan aquadest.
  6. Beri larutan safranin (15 detik), cuci dengan air.
  7. Beri kaca preparat.
  8. Periksa dengan mikroskop dengan perbesaran 100x.

        f. Pembuatan media cair

Bahan : – MRSB 52 gram/liter

- NB 13 gram/liter

- Aquadest

Alat : –   Gelas beaker

-          Tabung reaksi

-          Spatula

-          Hot plate

-          Kapas

-          Gelas ukur

-          Karet

-          Kertas layang

-          Autoklaf

Cara kerja :

  1. Masing-masing bahan ditimbang.
  2. Dimasukkan dalam gelas beaker untuk masing-masing media.
  3. Tambahkan aquadest.
  4. Panaskan dan diaduk hingga homogen.
  5. Dimasukkan kedalam tabung reaksi  masing-masing 10ml.
  6. Tutup dengan kapas.
  7. Semua tabung dijadikan satu, tutup dengan kertas layang dan diikat dengan karet pentil (bagian atas dan bawah).
  8. Masukkan kedalam plastik besar.
  9. Penyeterilan dengan autoklaf otomatis selama 15 menit.

4.1.2 Laboratorium Kimia Pangan.

       a. Analisis pati

Bahan : – Sampel yang akan dianalisis 0,5 gram/100 ml aquadest

- NaOH ± 13 ml atau sampai netral

- Aquadest

- HCl 25 % 20 ml

Alat : –   Erlenmeyer

-          Corong kaca

-          Labu ukur

-          Kertas saring

-          Gelas beaker

-          Pipet ukur

Cara kerja :

  1. Timbang masing-masing sampel 0,5 gram.
  2. Tambahkan 100 ml aquadest.
  3. Shaker selama 1 jam.
  4. Saring menggunakan kertas saring (diambil residunya), hingga volume filtrat mencapai 250 ml.
  5. Sobek kertas saring, masukkan kedalam erlenmeyer semula.
  6. Tambahkan aquadest 250 ml.
  7. Tambahkan HCl 25% 20 ml.
  8. Hidrolisis selama 2,5 – 3 jam, menggunakan reflaks.
  9. Netralisasi, tambahkan NaOH 45% 13ml atau sampai netral.
  10. Penyaringan (pengambilan residu), bila filtrat yang di dapat kurang dari volume 250 ml, di tambahkan aquadest hingga mencapai volume 250 ml.
  11. Pengocokan.
  12. Ambil 1 ml, masukkan kedalam labu ukur.
  13. Tambahkan aquadest hingga mencapai volume 50 ml, kocok.
  14. Masukkan kedalam tabung reaksi, ambil 1 ml.
  15. Masukkan kedalam labu ukur, tambahkan aquadest hingga mencapai volume 25 ml, kocok.
  16. Ambil 1 ml, masukkan kedalam tabung reaksi.
  17. Dispektrofotometer.

b. Analisis antosianin

Bahan : – Sampel yang akan dianalisis masing-masing 3 gram

- Larutan HCl 1% dalam etanol 15 ml

- Buffer (pH 1,0 dan pH 4,5) 0,5 ml

Alat : –   Tabung reaksi

-          Erlenmeyer

-          Corong kaca

-          Pipet ukur

-          Plastik

-          Karet

-          Label

Cara kerja :

  1. Timbang masing-masing sampel 3 gram.
  2. Tambahkan larutan HCl 1% dalam etanol 15 ml kedalam masing-masing erlenmeyer.
  3. Shaker selama 1 jam.
  4. Pindahkan kedalam masing-masing tabung reaksi yang sudah disiapkan dengan disaring menggunakan kertas saring ( pengambilan filtrat).
  5. Pindahkan masing-masing kedalam tabung reaksi lagi sebanyak 4,5 ml untuk setiap sampel.
  6. Tambahkan buffer pH 1,0 dan pH 4,5 sebanyak masing-masing 0,5 ml.
  7. Dispektrofotometer.

c. Analisis kadar air

Bahan : – Sampel yang akan dianalisis

Alat : –   Cawan petri

-          Tissue

-          Penjepit

-          Spatula

-          Timbangan

-          Oven

-          Descicator

Cara kerja :

  1. Masukkan cawan petri kosong kedalam oven selama 12 jam (hingga konstan).
  2. Masukkuan kedalam descicator (hingga dingin).
  3. Timbang cawan petri yang telah konstan.
  4. Setelah itu masukkan sampel dengan berat 5,0000 gram.
  5. Cawan petri yang berisi sampel dioven lagi selama 12 jam.
  6. Masukkan dalam descicator agar didapat hasil yang sesuai.
  7. Dilakukan analisa.

d. Analisis vitamin c

Bahan : – Sampel yang akan dianalisis masing-masing 2,5 gram

- Iodin 4,6 ml

- Amilum 2 ml

- Aquadest ± 100 ml

Alat : –   Labu ukur

-          Gelas plastik

-          Gelas ukur

-          Pipet ukur

-          Alat filtrasi

-          Kertas saring

Cara kerja :

  1. Timbang sampel masing-masing 2,5 gram.
  2. Masukkan kedalam gelas plastik.
  3. Masukkan sampel tersebut kedalam labu ukur dengan disaring menggunakan kertas saring dan ditambahkan aquadest hingga volumenya mencapai 100 ml.
  4. Tambahkan amilum sebanyak 2 ml.
  5. Filtrasi dengan menambahkan iodin sebanyak 4,6 ml atau hingga warnanya keungu-unguan.
  6. Dilakukan analisis.

       e. Analisis total gula

Bahan : – Sampel yang akan dianalisis masing-masing 1,0 gram

- Etanol 96% 10 ml

- Aquadest

Alat : –   Erlenmeyer

-          Gelas beaker

-          Kertas saring

-          Pipet ukur

-          Waterbath

Cara kerja :

1.Timbang sampel masing-masing 1,00 gram.

2. Tambahkan aquadest 10 ml.

3. Tambahkan etanol 10 ml.

4. Shaker selama 1,5 jam.

5. Penyaringan dengan kertas saring, dan tambahkan CaCO3 0,5 gram.

6. Pemanasan dalam waterbath suhu 850C, selama 0,5 jam.

7. Penyaringan (pengambilan filtrat).

8. Tambahkan aquadest sampai volume 10 ml.

9. Tambahkan 1 tetes Pb Acetat jenuh.

10. Disentrifuse.

       f. Analisis β-Caroten

Bahan : – Sampel yang akan dianalisis masing-masing 10 gram

- PE dan Aceton (15 ml/1:1)

Alat : –  Tabung reaksi

-          Kertas saring

-          Corong kaca

-          Tabung erlenmeyer

-          Pipet tetes

Cara kerja :

  1. Timbang sampel masing-masing 10 gram.
  2. Penambahan PE dan Aceton (15 ml/1:1).
  3. Shaker 4 jam.
  4. Penyaringan (ambil filtratnya).
  5. Pengambilan bagian atas dari filtrat.
  6. Penambahan PE dan Aceton (15 ml /1:1).
  7. Dispektrofotometer.
  8. Dikoloum.
  1. g.      Analisis amilosa

Bahan : – Aquadest

- Asam Asetat 1 ml

- Alkohol 96% 1 ml

- Larutan Iodin 2 ml

- NaOH 1N 9 ml

Alat : –   Labu ukur

-          Gelas ukur

-          Kertas saring

-          Kompor listrik

-          Gelas beaker

-          Corong kaca

-          Tabung reaksi

Cara kerja :

  1. Timbang sampel masing-masing 0,2 gram.
  2. Penambahan alkohol 96% 1 ml.
  3. Penambahan NaOH 1N 9 ml.
  4. Divortexs.
  5. Dipanaskan (sampai larut).
  6. Masukkan dalam labu ukur volume 100 ml.
  7. Tambahkan aquadest hingga mencapai volume 100 ml, kocok.
  8. Penyaringan (pengambilan filtrat).
  9. Ambil 5 ml, masukkan dalam labu ukur lain.
  10. Tambahkan asam asetat 1 ml.
  11. Tambahkan larutan Iodin 2 ml.
  12. Tambahkan aqudest hingga mencapai volume 100 ml, kocok.
  13. Pindahkan kedalam tabung reaksi.
  14. Dispektrofotometer.
    1. h.      Analisis warna

Bahan : – Sampel yang akan dianalisa

Alat : –   Colour reader

-          Plastik

Cara kerja :

  1. Sampel yang akan dianalisa terlebih dahulu ditutup dengan plastik.
  2. Dekatkan dengan alat Colour Reader dan diketahui berapa warna yang dihasilkan.
    1. i.        Analisis viskositas

Bahan : – Air

-   Sampel yang akan dianalisis

Alat : –   Pipet

-          Tabung reaksi

-          Refraktometer

-          Tissue

Cara kerja :

  1. Ambil sampel kedalam beaker 15,0000 gram.
  2. Panaskan air dalam panci dan tunggu hingga panas.
  3. Setelah itu masukkan sampel yang telah ditambah air hingga volume 150 ml dan panaskan dalam panci.
  4. Tunggu hingga suhu 850C sampai 900C, angkat dan dinginkan.
  5. Setelah itu ukur menggunakan alat Viscotester dan dilihat berapa hasil yang didapatkan.

4.1.3 THP Snack & Bakery

       a. Pembuatan roti tiger

Bahan : – Terigu Cakra                                       1000 gram

-   Ragi Instant                                        15 gram

-   Improver                                             3 gram

-   Gula pasir                                           175 gram

-   Air                                                      510 gram

-   Garam                                                10 gram

Cara pembuatan :

  1. Campurkan bahan kering (tepung cakra, ragi instan, improver, gula pasir).
  2. Pengulenan.
  3. Tambahkan air sedikit demi sedikit sampai tercampur rata.
  4. Masukkan margarine dan garam.
  5. Pengulenan.
  6. Penimbangan masing-masing 170 gram.
  7. Pembulatan.
  8. Di rollpin.
  9. Pengisian sesuai selera.
  10. Pembentukan adonan sesuai selera.
  11. Proving.
  12. Pengovenan.

       b. Pembuatan roti manis biasa

Bahan : – Tepung cakra                                      1000 gram

- Ragi instan                                          20 gram

- Improver                                               3 gram

- Gula pasir                                             300 gram

- Air                                                         450 gram

- Margarine palmbon                                  150 gram

- Garam                                                    15 gram

- Telur                                                        2 butir

Cara pembuatan :

  1. Pencampuran bahan kering (tepung cakra, ragi instan, improver, gula pasir).
  2. Pengulenan.
  3. Tambahkan air dan telur yang dijadikan satu sedikit demi sedikit hingga tercampur merata.
  4. Tambahkan margarine dan garam.
  5. Pengulenan.
  6. Pembulatan.
  7. Penimbangan masing-masing 36 gram.
  8. Pembulatan.
  9. Di Rollpin.
  10. Pengisian atau tanpa isi sesuai selera.
  11. Pembentukan sesuai selera.
  12. Proving.
  13. Pengovenan.

       c. Pembuatan roll cake

Bahan : – Tepung cakra                                      150 gram

- Susu bubuk                                        20 gram

- Minyak                                               150 gram

- sp                                                         30 gram

- Gula                                                      150 gram

- Telur                                                      8 butir

Cara pembuatan :

  1. Campurkan bahan kering (tepung cakra, susu bubuk, sp, gula, telur).
  2. Pengulenan.
  3. Tambahkan minyak.
  4. Pengulenan.
  5. Penyetakan.
  6. Pengovenan.

      d. Pembuatan sus kering

Bahan : – Margarine                                            340 gram

- Telur                                                   10 butir

- Penyedap atau garam                          5 gram

- Air                                                      840 gram

Cara pembuatan :

  1. Pemasakan margarine dan air sampai mencair.
  2. Masukkan tepung dalam wadah lain.
  3. Lalu masukkan margarine cair kedalam tepung.
  4. Tunggu sampai hangat kuku.
  5. Masukkan telur dan penyedap atau garam.
  6. Pengadukan sampai adonan halus.

       e. Pembuatan vla sus

Bahan : – Susu cair                                            250 gram

- Air                                                     250 gram

- Gula                                                  100 gram

- Maizena                                             50 gram

Cara pembuatan :

  1. Campurkan semua bahan menjadi satu.
  2. Pengulenan.
  3. Pemasakan sampai kental.

       f. Pembuatan topping moka

Bahan : – Tepung cakra                                      300 gram

- Margarine                                            300 gram

- Gula halus                                           250 gram

- Susu bubuk                                         25 gram

- Kopi                                                    25 gram

- Telur                                                   3 butir

Cara pembuatan :

  1. Campur semua bahan menjadi satu.
  2. Pemixeran

      g. Pembuatan roti tawar

Bahan : -Tepung cakra                                       1000 gram

- Ragi instan                                          15 gram

- Improver                                             3 gram

- Gula pasir                                           175 gram

- Air                                                      500 gram

- Margarine                                            100 gram

- Garam                                                10 gram

Cara pembuatan :

  1. Campur bahan (tepung cakra, ragi instan, improver, gula pasir).
  2. Pengulenan.
  3. Penambahan air sedikit demi sedikit.
  4. Pengulenan.
  5. Penambahan garam dan margarine.
  6.  Pengulenan.
  7. Penimbangan.
  8. Pembulatan.
  9. Pencetakan.
  10. Pengovenan.
  11. Pengirisan.

h. Pembuatan mlinjo cookies

Bahan : – Mlinjo                                                 300 gram

- Terigu kunci biru                                  800 gram

- Gula halus                                           300 gram

- Garam                                                1 sdm

- Minyak sayur                                       450 gram

Cara pembuatan :

  1. Campur semua bahan (kecuali mlinjo).
  2. Haluskan mlinjo yang sudah digoreng.
  3. Massukkan mlinjo yang sudah halus kedalam adonan.
  4. Bentuk bulat adonan.
  5. Berilah taburan mlinjo yang sudah halus diatasnya.
  6. Pengovenan.

 

     i. Pembuatan lidah kucing

Bahan : – Margarine                                            225 gram

- Gula halus                                           400 gram

- Rombutter                                           225 gram

- Putih telur                                           450 gram

- Terigu roda biru                                    600 gram

- Baking powder                                     6 gram

- Vanilla Butter                                       2 gram

Cara pembuatan :

  1. Mixer putih telur dan gula halus.
  2. Masukkan semua bahan.
  3. Ambil sedikit adonan, dan tambahkan sedikit pasta coklat.
  4. Pencetakkan ke loyang, dan beri toping coklat diatasnya.
  5. Pengovenan.

      j. Pembuatan kastangeel

Bahan : – Rombutter                                           100 gram

- Margarine                                            350 gram

- Kuning telur                                         2 butir

- Keju tua                                              100 gram

- Terigu segitiga                                     500 gram

- Maizena                                              100 gram

- Keju chedar                                         150 gram

- Penyedap                                            4 gram

Cara pembuatan :

  1. Masukkan semua bahan (kecuali keju chedar, keju tua, dan kuning telur) kedalam dough mixer.
  2. Setelah tercampur semua masukkan keju chedar dan keju tua.
  3. Cetak adonan dengan cetakkan plastik.
  4. Olesi dengan kuning telur.
  5. Beri taburan keju chedar.
  6. Pengovenan.

      k. Pembuatan sagu keju

Bahan : – Rombutter                                           100 gram

- Margarine                                            150 gram

- Telur                                                   2 butir

- Terigu kunci                                        50 gram

- Gula halus                                           150 gram

- Keju chedar                                         150 gram

- Tapioka                                               450 gram

Cara pembuatan :

  1. Campurkan rombutter, margarine, dan gula halus hingga mengembang.
  2. Masukkan telur, hingga tercampur rata.
  3. Masukkan keju chedar.
  4. Masukkan tepung tapioka yang sudah dicampur dengan tepung kunci.
  5. Pencetakan.
  6. Pengovenan.

       l. Pembuatan palm cookies

Bahan : – Margarine                                            200 gram

- Rombutter                                           200 gram

- Gula halus                                           400 gram

- Garam                                                2 gram

- Kuning telur                                         4 butir

- Vanilla Butter                                       4 gram

- Terigu kunci                                        600 gram

- Maizena                                              20 gram

- Chocolate chips warna-warni                50 gram

- Gula Palm                                           100 gram

Cara pembuatan :

  1. Masukkan semua bahan (kecuali chocolate chips dan gula palm).
  2. Cetak adonan dengan bentuk bulat.
  3. Pemberian chocolate chips diatas adonan.
  4. Diberi taburan gula palm.
  5. Pengovenan.

       m. Pembuatan nastar

Bahan: – Rombutter                                            100 gram

- Margarine                                            250 gram

- Kuning telur                                         2 butir

- Keju tua                                              500 gram

- Terigu segitiga                                     450 gram

- Maizena                                              100 gram

- Gula halus                                           50 gram

- Vanilli bubuk                                        1 gram

- Batang cengkeh                                   50 gram

- Selai nastar                                         500 gram

Cara pembuatan :

  1. Campurkan semua bahan (kecuali batang cengkeh, selai nastar, dan kuning telur).
  2. Bentuk bulat adonan.
  3. Selai nastar dibentuk bulat-bulat kecil.
  4. Adonan nastar diberi isi selai nastar.
  5. Pengolesan kuning telur diatas adonan.
  6. Beri batang cengkeh diatasnya.
  7. Pengovenan.

       n. Pembuatan roti tawar gandum

Bahan : – Tepung cakra                                      1000 gram

- Ragi instan                                          15 gram

- Improver                                             3 gram

- Gula pasir                                           100 gram

- Air                                                      510 gram

- Margarine                                            50 gram

- Garam                                                5 gram

- Kulit Gandum                                      125 gram

Cara pembuatan :

  1. Campur bahan (tepung cakra, ragi instan, improver, gula pasir, kulit gandum).
  2. Pengulenan.
  3. Penambahan air sedikit demi sedikit.
  4. Pengulenan.
  5. Penambahan garam dan margarine.
  6.  Pengulenan.
  7. Penimbangan.
  8. Pembulatan.
  9. Pencetakan.
  10. Pengovenan.
  11. Pengirisan.

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 KESIMPULAN

Kesimpulan yang dapat diambil adalah :

  1. PRAKERIN di Jurusan Teknologi Hasil Pertanian Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Brawijaya sangat bermanfaat bagi penyusun dalam menambah wawasan, keterampilan dan disiplin dalam praktikum.
  2. Kegiatan praktikum di laboratorium mikrobiologi pangan dalam keadaaan steril, diantaranya pembuatan media agar, penggoresan kultur bakteri dan transfer kultur bakteri.
  3. Kegiatan praktikum di laboratorium kimia pangan  teliti, cermat dan pembuktiannya benar diantaranya analisis pati, analisis kadar air, dan analisis total gula.
  4. Kegiatan praktikum di THP Snack & Bakery sesuai tahap pengolahan produk yang akan dibuat , diantaranya roti tigger, roti manis biasa, roti tawar, dan roll cake.
  5. Berdasarkan PRAKERIN penyusun selama 3 bulan ini pelaksanaannya harus sesuai prosedur.

5.2 SARAN

Saran yang dapat diberikan penyusun adalah :

  1. Tempat pengolahan dan penjualan suatu produk pangan akan lebih baik jika tempatnya luas. Dan juga adanya cantuman setiap harga produk pangan tersebut.
  2. Tempat praktikum untuk analisis diusahakan selalu bersih dan harus ada perawatan setiap sebelum dan sesudah pemakaian alat.
  3. Dipenuhinya fasilitas pencucian peralatan di setiap laboratorium praktikum.

 

 

 

BAB VI

DAFTAR PUSTAKA

 

Petrucci. 1989. Kimia Dasar : Prinsip-Prinsip dan Terapan Modern. Erlangga, Jakarta.

Winarno. 1995. Kimia Pangan dan Gizi. PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.

Buckle,KA., RA.Edwards,GH. Fleet dan M.Wooton. 1985. Ilmu Pangan (Terjemahan dari Bahasa Inggris oleh H. Purnomo dan Adiono). Penerbit Universitas Indonesia. Jakarta.

Dwidjoseputro. 1985. Dasar-dasar Mikrobiologi. Penerbit Djambatan.

Frazier, WC. And DC. Westhoff. 1988. Food Microbiology. McGrawHill Book Co. Singapore.

Pelczar, Michael J. dan E.C.S.Chan. 1988. Dasar-Dasar Mikrobiologi. Penerjemaah Ratna Siri Hadioetomo, Teja Imas, Sutarmi Tjitrosomo dan Sri Lestari Angka. Penerbit Universitas Indonesia.

Srikandi Fardiaz. 1989. Mikrobiologi Pangan. Pusat Antar Universitas Pangan dan Gizi. Institut Pertanian Bogor.

Suriawiria. 1985. Pengantar Mikrobiologi Umum. Penerbit Angkasa Bandung.

Volk, A. Wesley dan Wheeler, F. Margaret. 1990. Mikrobiologi Dasar. Jilid Edisi kelima. Editor Soenartono Adisoemarto Ph.D. LIPI. Penerbit Erlangga.

http://badai0906.blogspot.com/2010/04/pengenalan-dan-pengamatan-mikroba.html

http://retno2005biologi.blogspot.com/2010/04/sterilisasi-dan-penyiapan-media.html

http://www.scribd.com/teknik-inokulasi-mikroorganisme/d/18656107

http://blogkita.info/perhitungan-jumlah-bakteri/

http://forumhalal.wordpress.com/2009/04/12/dibalik-kelembutan-dan-aroma-sedap-produk-bakery/

sumber : http://www.speciation.net/Public/Objects/Glossary/?we_objectID=299

http://breadcycle.blogspot.com/2009/03/metode-pengolahan-roti-dan-kue.html

BAB VII

LAMPIRAN

 

3)       KEGIATAN PRAKTIKUM LABORATORIUM MIKROBIOLOGI PANGAN

                                            

Gambar 1.1 Media                                                                     Gambar 1.2

yang terkontaminasi                                                 Pengamatan mikroorganisme

Gambar 1.3                                                                            Gambar 1.4

Transfer kultur bakteri                                                        Penimbangan media

Gambar 1.5                                                                        Gambar 1.6

Media kultur bakteri                                                         Pewarnaan gram

Gambar 1.7                                                                             Gambar 1.8

Pewarnaan gram                                                                Pewarnaan gram

Gambar 1.9                                                        Gambar 1.10

Pewarnaan gram                                                             Mikroorganisme

Gambar 1.11                                                                       Gambar 1.12

Kultur jamur                                                                            Mikroba

4)       KEGIATAN PRAKTIKUM LABORATORIUM KIMIA PANGAN

 

                                    

 

Gambar 2.1                                                                         Gambar 2.2

Titrasi                                                                         Penimbangan sampel

Gambar 2.3

Analisis logam

5)       KEGIATAN PRAKTIKUM THP SNACK & BAKERY

 

Gambar 3.1                                                                            Gambar 3.2

Penimbangan bahan kering                                          Penimbangan bahan basah

Gambar 3.3                                                                          Gambar 3.4

Bahan dasar roti                                                                  Pengulenan

Gambar 3.5                                                            Gambar 3.6

Pembulatan awal                                                                Pengrolling pin

Gambar 3.7                                                                                   Gambar 3.8

Pemerataan adonan                                                                        Pengepresan

Gambar 3.9                                                                          Gambar 3.10

Hasil pengepresan                                                                  Pembulatan

Gambar 3.11                                                                         Gambar 3.12

Pembentukkan                                                                           Proving

Gambar 3.13                                                                       Gambar 3.14

Pengtoppingan                                                                    Pengovenan

Gambar 3.15                                                                     Gambar 3.16

Hasil Akhir                                                                         Hasil Akhir

 

 

 

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Dalam kewirausahaan kami dituntut untuk dapat membuat sebuah usaha. Dimana usaha tersebut dapat kami ciptakan dengan kemampuan dan kreativitas. Sehingga kami juga bisa untuk membuat sebuah lapangan pekerjaan serta dapat pula untuk membantu pengangguran.

Untuk kewirausahaan kali ini kami dituntut untuk dapat membuat sebuah kreatifitas untuk menciptakan sesuatu yang baru dari sebuah barang bekas, dimana barang bekas itu sendiri sudah tidak terpakai  dan tidak memiliki nilai jual karena belum adanya sentuhan nilai seni di dalamnya.

Maka dari itu kami berusaha untuk dapat menciptakan sebuah produk baru dari barang bekas tersebut, meskipun belum sempurna dengan produk yang kami buat ini tapi kami sudah berusaha untuk mengaplikasikan kreasi sehingga kami juga mendapat keuntungan dari penjualan produk tersebut.

1.2 Tujuan

Tujuan kami dari menciptakan produk barang bekas adalah,

  1. Agar kami dapat menciptakan sebuah bentuk usaha dari brang yang sudah tidak terpakai lagi terutama barang bekas.
  2. Agar kami dapat membantu dalam meminimalkan barang bekas yang ada di lingkungan masyarakat.
  3. Agar kami dapat menciptakan produk yang baru dari produk yang lama atau tidak terpakai lagi.

 

 

1.3 Manfaat

Manfaat yang dapat kami ambil dari pembuatan produk barang bekas ini adalah,

  1. Kami mendapatkan tambahan pengetahuan tentang membuat kreatifitas baru dari barang bekas.
  2. Kami dapat berinovasi dengan produk yang kami buat dari barang bekas.
  3. Kami mendapatkan keuntungan dari hasil penjualan produk dari barang bekas.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

PENUTUP

 

3.1 Kesimpulan

Sesuatu hal yang dapat kami ambil dalam pembuatan barang bekas kemudian dijadikan sebuah produk yang dapat kami jual serta memiliki nilai ekonomis adalah kami mendapatkan pengetahuan tambahan tentang bagaimana berkreativitas dengan sebuah barang yang tidak terpakai kemudian dirubah menjadi sebuah barang yang memiliki nilai jual. Yang mana dari pembuatan produk tersebut kami juga mendapatkan laba hasil penjualan kreatifitas kami sendiri.

 

3.2 Saran

Saran dari kami untuk kreatifitas pembuatan produk dari barang bekas adalah agar dapat disediakannya tempat dan peralatan serta buku panduan untuk dapat membuat kreasi-kreasi yang lebih menarik dari barang bekas.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

ANALISIS USAHA

 

2.1 Kebutuhan Modal

1. Alat dan Bahan :

a)     Stik Ice Cream                                                           73 buah          Rp.-

b)     Lem Alteco                                                                 1 buah            Rp. 3500

c)      Doule Tip                                                                   1 buah            Rp. 2000

d)     Pernak pernik                                                            Secukupnya  Rp.-

2. Total Biaya                                                                                                Rp. 5500

3. Penyusutan alat 10 % dari total biaya                                                   Rp. 550

4. Penyusutan tenaga kerja                                                                        Rp. 275

5. Total Biaya Produksi                                                                                Rp. 6325

6. Laba = 50/100 x Total biaya produksi

= 0,5 x 6325

= 3162.5

7. Harga Jual = Total biaya produksi + Laba / banyak produk

= 6325 + 3162.5 / 5

= 1897,5

2.2 Prosedur Kerja

1. Bersihkan stick ice cream terlebih dahulu.

2. Mulai tentukan bentuk yang diinginkan.

3. Pengeleman.

4. Penghiasan.

5. Pemasaran.

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s